LUKA MAYANG : KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH

KISAH SERAM 📛 MELAYU BERSIRI
TAJUK CERITA : LUKA MAYANG
KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH
HASIL KARYA : ZYLAN AGATHA
KISAH SERAM 📛 MELAYU BERSIRI
TAJUK CERITA : LUKA MAYANG
KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH
HASIL KARYA : ZYLAN AGATHA
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/luka-mayang-kisah-wanita-yang-dibunuh.html

PART 1
"Bu, maaf. Mayang hamil, sudah empat bulan," kata Mayang suatu hari. Sang ibu yang terkejut tak mampu menahan air mata. Hatinya berkata ingin memukul Mayang, tapi juga merasa bersalah. Ia gagal menjaga anak perempuan satu-satunya itu.
"Siapa yang melakukan itu, Nak?"
"Azmir," jawab Mayang gemetar. Tangannya mengepal geram, takut-takut ia menatap mata ibunya.
Brak!
Piring yang sedang dibersihkan itu mendarat kasar ke lantai. Mayang terkejut, menatap perlahan wajah ibunya yang memerah; geram. Harusnya bulan depan Mayang bahagia, cincin pertunangan melingkar di jari manisnya kelak. Namun, sebuah tragedi yang sudah menjadi rahasia umum. Mayang telah ternoda, bahkan sebelum janji sehidup semati itu diucapkan.
"Kenapa kalian bisa melakukan dosa besar itu, hah? Kamu itu yang bodoh! Sudah tahu salah masih dilakukan! Ke mana ajaran kedua orangtuamu dulu? Masuk telinga kanan keluar telinga kiri aja?" Emosi Mawar membuncah. Sedangkan Mayang di sana hanya mampu terdiam. Ingin rasanya ia berteriak dan lari sejauh mungkin dari sini. Namun, apa daya, tidak ada yang akan mendengar kenyataan sebenarnya.
Ia diperkosa, dipaksa.
"Bu, dengar dulu penjelasan Mayang. Mayang tahu ini dosa besar dan memalukan, tapi ini bukan kesalahan Mayang sepenuhnya!"
"Kamu ingat dulu waktu Bapak menasehati soal zina? Ibu jelas-jelas bilang di situ, 'kan? Kalau sampai kamu melakukan, bunuh kedua orangtuamu langsung saat itu juga. Supaya hanya kamu yang menanggung malu!"
Mawar berjongkok dan mengambil pecahan kaca itu. Menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi, Mayang menangis dan menepis tangan Mawar. Beling itu kembali jatuh ke atas lantai.
"Ini, 'kan yang kamu mau? Malu-maluin keluarga!"
Sakit.
Ribuan duri sedang menusuk dadanya saat ini. Hatinya hancur menjadi keping-keping keputusasaan. Ia telah berpacaran dengan Azmir selama tiga tahun lamanya. Namun, selama itu Azmir tak pernah meminta yang aneh-aneh. Baru kali ini, dua bulan menjelang hari pertunangan. Malam itu menjadi riwayat kelamnya kehidupan. Nafsu lelaki yang tak bisa dikendalikan, dan Mayang yang lemah tak mampu melawan.
***
"Akh!"
Mawar seperti manusia kesetanan, ia mengambil beling itu bukan untuk melukai dirinya. Namun, untuk memukul kepala Mayang sampai terluka. Perempuan yang ternoda itu hanya bisa meringis di bawah kaki ibunya. Darah mengalir dari atas dan mengucur deras. Napasnya tersengal, ia mulai kehilangan kesadaran.
"Keluar!"
Mayang menggeleng. Tatapan Mawar begitu tajam hingga nyalinya ciut. Jika diusir dari rumah, dengan siapa ia tinggal? Azmir belum punya rumah sendiri, tak mungkin tinggal di rumah calon mertuanya. Alasan apa yang diutarakan nanti jika ditanya? Mengapa sampai diusir dengan luka yang cukup parah?
Tidak, Mayang memikirkan nasib bayi di dalam kandungannya ini.
"Bu, siksa Mayang sampai emosi Ibu reda. Asal jangan usir Mayang dari rumah. Bagaimana nasib anak di kandungan Mayang nantinya? Jangan pikirkan Mayang, pikirkan janin ini, Bu!" ucap Mayang mengiba. Mawar terdiam untuk sesaat, jalan keluar untuk masalah rumit ini. Ia bisa saja bersikap seolah tak terjadi apa-apa, tapi bagaimana mengelabui suaminya?
Jika suaminya sampai tahu akan hal ini, petaka besar akan terjadi.
"Jaga rahasia ini jangan sampai Bapakmu tau! Apalagi nenek kakekmu. Bisa habis babak belur dihajar Bapak nanti. Paham?" ucap Mawar dengan nada tinggi.
"Bukan cuma kamu yang dihajar nanti. Aku juga, bodoh!" lanjutnya. Mayang mengangguk pelan, tetesan air mata jatuh seiring dengan pertahanan tubuhnya yang mulai lemah.
"Bersihkan ini nanti!"
Bruk!
Tepat ketika Mawar berbalik badan, Mayang ambruk saat itu juga. Batinnya tersiksa, luka di kepalanya cukup dalam. Ia butuh pengobatan sekarang. Namun, adakah yang peduli? Mawar abai, seperti tak menganggap anaknya lagi. Bagai orang asing.
"Ibu, sakit ...," keluh Mayang. Namun, indra pendengaran Mawar seperti ditutupi setan. Ia tak mendengar apa-apa, lenyap semua kasih sayang karena kesalahan besar.
Luka Mayang, luka hati yang mungkin sulit disembuhkan. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah dinodai, tak dianggap orang tua sendiri juga. Tangisan wanita itu hampir tak terdengar. Jelas, ia menangis dalam hati. Saat-saat seperti ini hanya Tuhan yang bersamanya.
Ia pasrah. Ingin mati saat itu juga.
***
Malam hari, Azmir menelepon. Keadaan Mayang yang lemah dan kekurangan darah, juga perban yang melingkar di kepalanya, membuat ia menolak ketika diajak bertemu. Begitu manis janji Azmir, rindu setengah mati katanya. Padahal baru pagi tadi berbincang di pasar.
"Maaf, aku nggak bisa ketemu sekarang. Lain kali aja. Kalau kangen kita bisa telepon sampai berjam-jam," tolak Mayang halus. Suaranya gemetar, ia takut.
[Beda lah! Kalau ketemu kan bisa sambil peluk cium] kata Azmir. Darah Mayang berdesir. Inikah yang dinamakan cinta?
"Begitukah kamu ternyata? Pas pacaran nggak ada kayak gini, Mas! Tiba-tiba otakmu isinya selangkangan begini. Kesetanan apa? Bisa sabar, 'kan? Habis tunangan jeda tiga bulan baru nikah!" ucap Mayang emosi.
"Kesucianku sudah kamu renggut duluan! Kurang apa lagi? Sudah cukup sekali ini. Mentang-mentang aku nggak bisa melawan lalu kamu seenak jidat mempermainkan. Aku wanita, bukan mainan!"
"Seandainya janin yang kukandung ini bukan anakmu, aku memilih meninggalkan."
Tidak ada balasan di sana, hanya terdengar suara napas berat. Mayang menunggu jawaban calon suaminya itu. Lelaki yang harusnya membimbing, tapi sebaliknya, malah menjerumuskan.
[Kamu ... hamil?]
"Ya! Aku hamil! Sekarang apa? Jangan sampai orang-orang tahu atau kita berdua akan celaka," jawab Mayang.
[Kok bisa? Kan malam itu sudah aku ... ah, ini pasti akal-akalanmu aja, 'kan? Itu bukan anakku karena aku yakin nggak mungkin bisa hamil!] Azmir tak mau kalah. Sekarang ia yang tak menerima kenyataan.
"Busuk! Ini anakmu! Kata siapa nggak mungkin, hah? Kamu memperlakukanku seperti budak waktu itu!"
[Terserah, intinya sampai kapan pun dia bukan anakku.]
"Ya, terserah! Aku bakal tetap melahirkan anak ini."
***
Bug, bug, bug!
"Buka!"
Itu suara Mawar. Tengah malam begini mendobrak pintu kamar Mayang.
"Ke-kenapa, Bu?" Wanita itu ketakutan, dahinya mengerut tanda cemas.
"Bersikap seolah nggak terjadi apa-apa. Bentar lagi Bapakmu pulang," kata Ibu. Mayang mengangguk pelan.
"Kenapa pake perban segala, sih? Nanti kalau ditanya kamu mau jawab apa?"
"Nanti Mayang jawab aja habis jatuh dari motor, Bu," jawab Mayang.
"Terserah, awas aja kalau sampai ketahuan!"
"Nggih, Bu."
Wanita itu jatuh tersungkur di depan pintu. Mau sampai kapan merahasiakan berita besar ini dari ayahnya? Mau sampai kapan Mayang tertekan karena takut rahasianya bocor suatu saat? Hatinya akan lelah, terus menerus memikirkan apa yang terjadi jika sampai ayahnya tahu akan hal ini. Benar-benar bencana.
Petaka.
Pikirannya buntu, beku. Tak tahu lagi ke mana arahnya dia akan berjalan. Memilih ikut arus tapi penderitaan itu akan selalu datang. Atau menentang takdir dengan resiko yang lebih besar; ia tak akan tahu konsekuensinya. Haruskah meninggalkan Azmir demi menjaga nama baik keluarganya?
Tidak.
Apa kata orang jika pertunangan itu dibatalkan? Mati konyol.
Tak ada pilihan lain karena sudah terlanjur dengan lelaki ini, maka harapan untuk lepas hampir musnah. Ia pasrah. Belenggu penderitaan itu lambat laun akan membunuhnya, perlahan. Cepat atau lambat.
***
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang di luar sana. Ya, Kadir sudah pulang. Jantung Mayang berdetak lebih cepat. Ia harus menahan tangis dan emosi, menyembunyikan ekspresi agar ayahnya tidak mengetahui.
"Udah makan, Nak? Atau tunggu Bapak pulang?" tanya Kadir sembari mengelus pelan puncak kepala putrinya. Hati Mayang mencair, ia luluh, tak sanggup lagi menahan air mata.
Ia memilih diam tak menjawab, lalu mengambil tas kerja ayahnya.
"Kepalamu kenapa?"
***
BERSAMBUNG..

KISAH SERAM 📛 MELAYU BERSIRI
TAJUK CERITA : LUKA MAYANG
KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH
HASIL KARYA : ZYLAN AGATHA
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/luka-mayang-kisah-wanita-yang-dibunuh.html

PART 2
"Oh, ini, nggak papa, kok, Pak. Tadi waktu ke pasar, jalannya becek. Jatoh deh," jawab Mayang berbohong. Kadir menyentuh perban itu dan tersenyum.
"Makanya hati-hati kalau jalan. Yang penting udah dikasih obat. Bapak makan dulu, kamu pasti sudah makan, 'kan?"
"Iya, Pak daritadi malah. Sampe ngantuk Mayang tungguin. Banyak tugasnya, ya?"
"Iya, banyak banget. Kamu tidur aja kalau ngantuk, jangan dipaksa. Habis makan Bapak langsung tidur kok," ucap Kadir. Mayang manggut-manggut dan berjalan menuju dapur. Ia mengangkat nampan berisi lauk pauk untuk ayahnya itu.
Lahap sekali.
Hatinya mendadak pilu. Bagaimana jadinya jika sang ayah tahu yang sebenarnya? Kadir memang penyayang, tapi soal harga diri, dia bisa lebih garang dari singa lapar. Mawar sedari tadi hanya duduk diam di sofa.
"Masuk kamarmu, tidur. Biar ibu yang urus bapak," ucap Mawar sembari berjalan mendekat menuju Kadir.
Wanita itu berjalan pelan menuju kamar. Kadir tertawa kecil bersama ibunya, mereka membicarakan hal-hal menyenangkan. Tak sanggup rasanya bila ia tak lagi dianggap suatu hari nanti. Kehangatan dan kasih sayang keluarga tak lagi ia dapatkan. Dunia memang keras untuk beberapa orang.
Mayang, perempuan 20 tahun yang kini merasa sendiri. Tak ada teman, tak ada yang bisa diajak bertukar pikiran. Tentang apa yang harus dilakukan, tentang jeritan hati yang harus segera diluapkan. Kepada siapa ia mengadu? Hanya tangis yang menjadi pertanda bahwa hatinya benar-benar rapuh.
Tak berdaya.
***
Aneh.
Janin yang tumbuh di rahim Mayang sudah berusia empat bulan. Tandanya, ia sudah diperkosa jauh sebelum malam itu, ketika Azmir menghancurkan segalanya. Namun, mengapa Mayang tak angkat bicara? Adakah sesuatu yang disembunyikannya?
[Berapa bulan kamu hamil?] Pesan masuk dari Azmir, hanya muncul di notifikasi. Ia tak berniat membukanya langsung.
Sesaat kemudian, Azmir menelepon.
Mayang menggeser tombol hijau di benda pipih itu, lalu mendekatkan ke telinga.
"Empat bu ... ah, tidak. Baru tiga mingguan," jawab Mayang.
[Mustahil, May! Aku sudah beri kamu obat supaya kamu nggak hamil. Ini nggak mungkin.]
"Mungkin aja, 'kan? Kenapa bisa nggak mungkin? Kamu yang tahu segalanya saat itu karena aku nggak sadar."
[Aku benar-benar nggak yakin itu anakku. Kamu berani bohong sama aku? Jawab jujur! Jangan melimpahkan semuanya ke aku. Mentang-mentang aku calon suamimu!]
Mayang terdiam, ia menghela napas berat. Ia juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kehamilan ini sangat janggal dan aneh. Atau mungkin dia hamil anak setan?
"Aku nggak tahu apa-apa. Stop membuatku tertekan." Tangis itu pecah. Bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah ada makhluk dunia lain yang menyetubuhinya ketika tidur? Benarkah ada kejadian seperti itu di kehidupan nyata? Mayang kurang percaya sebetulnya, tapi itu cukup memberatkan pikirannya.
Kepalanyamendadak pusing, benda-benda di sekitar seperti berputar.
Ia hilang kesadaran.
***
"May, Ibu mau bicara sebentar."
"Kenapa, Bu?"
"Kapan Azmir melakukan perbuatan hina itu padamu?" Mayang tergugu, lagi-lagi pertanyaan yang membuat batinnya tertekan.
"May nggak tahu kapan tapi ... seingat May, Azmir ngajak ke rumah temannya dan ...," ucap Mayang terbata-bata.
"Ibu tanya kapan kejadiannya!"
"May lupa! May dicekoki obat sebelumnya dan ... segalanya terjadi begitu cepat, Ibu! Kenapa nggak tanya ke Azmir langsung aja? Dia yang melakukan."
"Kamu pikir dia bakal jawab jujur? Aku sudah males lihat mukanya, apalagi nanya hal memalukan seperti ini. Ingat-ingat lagi kapan, ibu merasa janggal dengan kehamilanmu yang sudah empat bulan," jelas Mawar.
"Sikap Azmir memang berubah dua bulan terakhir, tepat ketika keluarga kita menentukan tanggal pertunangan."
Mayang juga ingin penjelasan tentang hal ini. Pikirannya mulai menyerang akal sehat. Mungkin seperti itu, mungkin seperti ini. Belum lagi keluarganya yang memang memercayai hal-hal gaib.
"Atau jangan-jangan, kamu disetubuhi setan?"
"Ibu! Gimana bisa?"
"Bisa aja. Kamu cantik, jangankan manusia, setan aja mungkin tergila-gila sama kamu. May, kalau memang itu yang terjadi, Ibu masih bisa memaafkan dan cari solusi. Tapi kalau nyatanya kamu dihamili lelaki lain selain calon suamimu, ibu tak akan pernah menganggapmu ada."
Kini, ia menangis dalam hati. Ia bahkan tidak tahu apa yang telah terjadi. Seluruh dunia seakan-akan menyalahkan dirinya saat ini.
Mayang melangkah pelan menuju kamar. Hati dan fisiknya begitu lelah. Ia hampir gila. Apa yang sebenarnya terjadi? Jika ada yang menyetubuhinya sebelum Azmir, mengapa ia tak merasakan apa-apa? Apa benar makhluk halus itu yang melakukan semua ini?
Sebenarnya, akal Mayang menolak jika jin bisa menghamili manusia. Namun, hanya ini yang bisa menyelamatkan hidupnya. Entah, pikirannya buntu. Rasa-rasanya semua abu-abu, tak ada titik terang. Azmir? Ah, lelaki seperti itu enggan membuka mulut. Habis manis, sepah dibuang.
***
Setelah membersihkan kamar, Mayang keluar untuk menaruh piring kotor. Ada cermin besar di ruang tengah yang belum dipindahkan Kadir. Cermin itu milik pakdenya, karena hanya bersarang di gudang, Kadir membawanya pulang. Antik, terbuat dari kayu jati. Awalnya Mayang tidak merasa risih cermin itu bersandar di dinding ruang tamu.
Ia balik menuju kamar, tentu saja melewati cermin itu. Sekilas ia melirik ke pantulan bayangannya sendiri, tidak ada apa-apa. Ia menatap sedikit lebih lama, ada senyum aneh di dalam sana. Senyum tipis dan menakutkan, anggun tapi menyakitkan. Ada apa?
Mayang mendekat, disentuhnya cermin itu dengan tangan kanannya. Lalu, ia menyentuh pipi dan bibirnya. Aneh, sangat mengerikan.
"Pipiku nggak setirus itu. Atau aku kurusan?"
"Bibirku juga nggak setipis itu. Atau ...?"
Sepersekian detik kemudian, Mayang tersadar. Bayangan di hadapannya bukanlah dia, tapi orang lain.
Siapa?
Hantu?
Bisa jadi.
Tapi, mengapa begitu mirip? Seakan-akan ia melihat dirinya yang lain di sana. Mayang yang lembut, pendiam, dan santun. Tetiba dihadapkan dengan sosok yang mirip dengan dirinya. Rambut wanita misterius itu sangat berantakan. Lama ditatap, wajahnya semakin tak beraturan. Ia semakin yakin bahwa cermin ini berhantu.
"Ibu! Ibu!"
"Apa, sih?"
"Suruh Bapak jangan simpan cermin ini dalam rumah. A-ada hantunya," jawab Mayang.
"Mungkin kamu melamun jadi ngeliat aneh-aneh. Udah nggak usah dipikirin," balas Mawar cuek. Ia menunduk lalu kembali menatap cermin itu. Normal, tidak aneh seperti tadi. Benar-benar dipermainkan, ingin rasanya ia melempar semua barang di sekitar.
Malam harinya, Mayang bersiap-siap untuk tidur. Lampu telah dimatikan, pintu setengah ditutup. Jaga-jaga apabila ibunya ingin masuk dan mengambil sesuatu. Tiba-tiba, kepalanya terasa sakit begitu hebat. Pandangannya buram, napasnya berburu.
Ia tak sadarkan diri, lagi.
***
"Belum tidur, Sayang?"
"Belum, kenapa?"
"Yah ... seharian nggak ketemu gimana nggak kangen."
"Aku juga. Malam ini hanya ada kita berdua. Apakah semua orang udah tidur?"
"Tengah malam begini siapa yang masih terjaga? Ayolah ...."
"Haha, baiklah. Hati-hati jangan mengganggu si kecil."
"Adek bayi, izin pinjam Mama kamu sebentar, ya? Baik-baik di sana, jangan nakal!"
Lalu, terdengar suara cekikikan di dalam sana.
***
Sinar matahari yang menembus jendela kamar membuat wanita itu terbangun. Refleks ia memegang kepala dan perutnya. Nyeri semalam belum reda, ia harus minum obat. Namun, tiba-tiba ia merasa mual. Buru-buru bangkit menuju kamar mandi.
"Ada yang aneh. Perut bawahku sakit banget, biasanya juga nggak begini. Apa pengaruh hamil, ya?"
***
BERSAMBUNG..

KISAH SERAM 📛 MELAYU BERSIRI
TAJUK CERITA : LUKA MAYANG
KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH
HASIL KARYA : ZYLAN AGATHA
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/luka-mayang-kisah-wanita-yang-dibunuh.html

PART 3
Apa yang sebenarnya terjadi? Adakah hal yang tidak kuketahui di luar kesadaran?
Janin ini, haruskah aku menggugurkannya? Tidak, ini dosa besar. Aku tidak ingin menanggung dosa karena telah membunuh calon anak sendiri. Namun, apa yang telah menimpaku ini benar-benar di luar dugaan. Tidak masuk akal. Ini anak siapa kalau bukan darah daging calon suamiku sendiri?
Aku lupa memberitahu Bapak semalam. Cermin ini harus segera diangkat ke ruang keluarga. Jika terus menerus di sini, ruang gerak jadi terbatas. Takut juga jika sepupu datang dan bermain-main di sekitar sini, lalu tanpa sengaja menjatuhkan cermin.
Kau yakin hanya karena itu alasanku?
Sebenarnya, aku masa bodoh dengan kemungkinan buruk lainnya. Satu hal yang cukup membuatku takut. Ya, siapa sosok wanita yang mirip denganku ketika itu? Hanya mirip wajahnya, tidak penampilannya. Dia lebih berani dan sedikit menakutkan. Aku tak pernah mengurai rambut seperti itu. Atau menggunakan lipstik merah delima.
Sungguh, itu bukan Mayang yang biasanya. Selama ini orang mengenal Mayang adalah wanita yang sederhana. Lembut dan santun, tak banyak bicara.
***
Kehamilan ini harusnya sudah mulai terlihat. Aku pernah membaca jika hamil karena perzinahan, perempuan itu terlihat biasa-biasa saja. Tak menunjukkan tanda-tanda wanita yang sedang mengandung. Allah menyembunyikan dosa ini, tapi nanti balasannya lebih pedih lagi. Aku tahu, dan aku menangis ketika menyadari hal ini.
Belakangan memang, kesadaranku mudah hilang. Sering melamun dan berbicara tidak jelas. Ibu sering memergokiku berbicara sendiri, marah-marah, atau menangis tanpa suara. Ketika disadarkan, aku merasa tak melakukan apa-apa.
"Bu, kayaknya May memang benar-benar dihamili setan," ucapku ketika ibu sedang memasak. Ia menghentikan gerakan tangannya lalu menatapku dalam.
"Jelaskan kenapa kamu bisa yakin."
"Bukannya Ibu sendiri yang memprediksi bisa aja hal itu terjadi? Buktinya kehamilanku memang aneh. Kalau memang Azmir yang melakukan ini, kehamilanku masih berusia mingguan," jelasku tanpa berani menatapnya.
"Iya, ibu tau. Dari awal memang udah curiga sama kamu. Itu sebenarnya anak siapa. Kamu ditanya ada main sama yang lain jawabnya lupa."
Aku benar-benar lupa! Segalanya terjadi begitu cepat. Aku tidak ingat kejadian empat bulan yang lalu. Tidak mungkin selingkuh dengan lelaki lain. Aku hanya mencintai Azmir.
"May sering pingsan tiba-tiba. Pas bangun terasa capek banget. Padahal nggak ngelakuin apa-apa," kataku.
"Udah, nanti aja dibicarain. Ibu sibuk."
Ya, benar.
Aku bingung dan tak menyangka. Akhirnya, kuputuskan untuk mencari jalan tengah. Memercayai tahayul seperti ini memang jebakan. Semua keluarga mendalami hal supranatural, kecuali aku. Anak yang tak percaya dengan keberadaan makhluk lain di dunia ini.
[Mas, ayo ketemu di tempat biasa. Aku tunggu, sekarang.]
Kirim.
Centang biru itu akhirnya terlihat. Aku meletakkan benda pipih itu di atas kasur. Mengambil jaket dan menyisir rambut.
***
"Kenapa?" Tatapannya khawatir. Juga tangan yang meraih tubuhku tenggelam dalam dekapannya. Hangat.
Momen seperti ini yang kurindukan. Ketika hubungan baik-baik saja tanpa ada masalah menghambat. Sebelum sikapnya yang perlahan berubah. Ia bagaikan psikopat berkepribadian ganda. Kadang romantis, membuatku terbang hingga ke awan. Kadang pula sadis, menjatuhkanku dalam harapan palsu.
"Aku ...."
"Hmm?"
"Antar aku ke orang pintar sekarang. Ada yang aneh sama aku, Mas!" ucapku dengan nada tinggi.
"Kamu ngomong apa, sih? Mabok apa gimana? Aneh apa? Kenapa bawa orang pintar segala?"
"Aku curiga. Bayi ini anak setan," jawabku lantang. Respon tak terduga. Mas Azmir tertawa kencang.
"Emang ada hal kayak gitu di jaman sekarang? Ada-ada aja kamu."
"Kalau bukan karena jin, bagaimana bisa kandunganku sudah berusia empat bulan. Coba jelaskan," kataku. Ia terdiam. Aku saja masih kebingungan tentang hal ini. Tolong beritahu alasan yang lebih masuk akal.
"Yaudah, aku temenin."
Mbah Rondo, mantan paranormal dan pemburu hantu yang tinggal di seberang jalan. Rumahnya tertutup, jarang sekali Mbah Rondo keluar rumah. Hanya terlihat sekali-kali, ia keluar dan seperti mencari sesuatu. Lalu kembali masuk. Kata ibu, Mbah Rondo bisu, sehingga berkomunikasi dengannya cukup sulit. Namun, itu tidak menjadi alasanku mencari tahu.
Ketika masuk, ruangan utama dipenuhi bermacam-macam boneka. Rata-rata boneka itu memiliki bentuk yang menyeramkan. Banyak juga keris, lukisan, dan barang antik yang sepertinya memiliki penunggu.
"Langsung aja, Mbah. Nama saya Mayang. Sebenarnya ini aib tapi mau nggak mau harus diceritakan," ucapku. Mbah Rondo tak menjawab, ia hanya menggumam kecil sambil menunduk.
"Saya dan calon tunangan telah melakukan hubungan terlarang sebulan yang lalu. Ketika di-cek, kandungan saya sudah berusia empat bulan. Apakah saya dihamili setan, Mbah?"
Ya Tuhan ... lidahku mendadak kelu. Menceritakan aib sendiri ini sangat memalukan. Semoga saja Mbah paham apa yang aku maksud karena jujur saja, ruangan ini terasa mencekam.
Mas Azmir mencubit pelan perutku. "Kenapa dia nggak ngejawab?"
"Mas, dia itu bisu," jawabku pelan.
Mbah mendongak dan menatapku dalam. Ia seperti membaca sesuatu dan entahlah ... ekspresinya sangat sulit ditebak. Aku hanya ingin jawaban iya atau tidak.
"Mbah?"
"Hm ... hm ...."
"Mbah, iya atau tidak?" Beliau mengangguk pelan. Entah anggukan itu menyiratkan ya atau tidak. Aku mulai muak dan menyerah.
Ia memberiku segenggam bunga melati. Kuterima dengan ragu-ragu.
"Kayaknya kamu disuruh makan bunga itu," ucap Mas Azmir. Aku manggut-manggut, tapi memakan bunga melati adalah suatu kegilaan. Untuk apa?
"Udah, di rumah aja kamu makan. Aku pengen pulang," lanjutnya mendesak. Mbah Rondo mengangguk cepat, sepertinya Mas Azmir paham bahasa isyarat Mbah Rondo. Aku menghela napas berat, mengapa jadi runyam begini?
***
Kuremas bunga melati ini dalam genggaman. Satu persatu kelopaknya masuk ke dalam mulutku. Rasanya aneh dan hampir saja aku muntah. Demi apa aku seperti ini? Tidak masuk akal.
"Ngapain kamu?"
"Tadi May ke orang pintar. Terus dikasih bunga melati. Kayaknya disuruh makan," ucapku lalu membekap mulut.
"Buat apa?"
"May nggak dikasih tau apa-apa. Si Mbah Rondo, Bu. Yang bisu itu," jawabku.
Ibu tak menjawab, ia berbalik badan dan berlalu. Tinggal satu kelopak lagi tapi aku sudah tidak kuat.
Akhirnya, kumuntahkan semua isi perut. Perasaan tidak enak kembali menyerang. Kesadaran seperti terbagi dua. Jika memang benar ada jin di dalam tubuhku, bunga melati ini akan memberi efek. Kepalaku mulai pusing dan sekitaran tampak putih.
'Ikut denganku.'
Si-siapa?
'Cukup dengarkan dan ikut denganku.'
Aku membersihkan mulut dan mencari sumber suara. Seperti suara perempuan muda. Tubuhku serasa ada yang mengendalikan. Kesadaranku saja hampir hilang, tapi masih bisa merasakan keadaan sekitar.
"A-apa ini?" Tahu-tahu, aku sudah berada di dapur. Menggenggam pisau dan aku merasa perih luar biasa di daerah leher. Buru-buru melempar pisau ke sembarang tempat dan ke ruang tamu.
Cermin itu.
"Astaga! Kenapa bisa luka?" Aku terkejut bukan main. Bekas irisan di leher ini cukup dalam. Meski darahnya sudah berhenti mengalir. Siapa yang melakukannya?
Aku menangis. Meremas baju tidur yang kukenakan. Ternyata memang benar. Ada jin yang bersemayam di dalam tubuhku. Ia berusaha mengendalikan ragaku sepenuhnya. Sulit dipercaya tapi pada akhirnya aku menyerah.
Entah siapa dan apa yang diinginkan jin ini di dalam tubuhku. Satu yang menjadi pertanyaan. Apakah ia yang menghamiliku beberapa bulan yang lalu?
***
BERSAMBUNG ..

KISAH SERAM 📛 MELAYU BERSIRI
TAJUK CERITA : LUKA MAYANG
KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH
HASIL KARYA : ZYLAN AGATHA
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/luka-mayang-kisah-wanita-yang-dibunuh.html

PART 4
Aku terpaksa memakai jaket bertopi untuk menutupi luka di leher ini. Mas Azmir mengajakku makan siang di rumah makan seberang jalan. Meskipun dengan berat hati dan ragu ia akan melihat luka ini, sebisa mungkin bersikap baik-baik saja. Ia pasti akan menginterogasiku panjang lebar. Aku harus menjawab apa?
Siapa dalang di balik semua ini? Kejadian tadi benar-benar membuat pikiranku kalut. Kesadaranku bak terbagi dua, seperti ada yang mengendalikan. Tanpa tanda, tanpa suara. Tiba-tiba ia keluar dan entah apa yang dilakukannya.
"Jin itu bisa berubah jadi apa aja, May. Bisa aja 'kan yang di cermin itu yang menyetubuhimu? Dia ingin mengelabui dengan berubah persis menjadi kamu waktu itu. Padahal bisa aja dia genderuwo yang—" ucap Rani terpotong. Aku menatapnya nanar, ia mulai ketakutan.
"Genderuwo? Kamu percaya ada hal kayak gitu di dunia ini? Maksudku adalah, emang benar jin bisa menghamili manusia? Jadi, di kandunganku ini anak jin?"
"Bagaimana bisa, Ran? Ini nggak masuk akal! Kalau anak jin pasti nggak terdeteksi di sensor USG kemarin. Tapi ini ada, dia tumbuh!" Aku bersikeras tak percaya. Rani menghentikan langkahnya, lalu berbalik ke arahku.
"May, sesuatu yang nggak bisa kita lihat itu memang ada. Percaya nggak percaya. Ini memang nggak masuk akal untuk sebagian orang, termasuk aku. Kita lihat sampai anak ini lahir nanti," ucap Rani sambil melempar senyum tipis.
Setetes air mata jatuh di pipi. "Ran, tolong aku. Ini benar-benar nyiksa batin. Aku curiga sama Mas Azmir, aku takut diperkosa orang lain sebelum Mas Azmir sentuh aku malam itu. Aku takut ibu mengusirku dari rumah. Kehamilan ini aneh dan janggal, Ran."
Ingin rasanya menangis kencang saat itu juga. Namun, ini tempat umum, aku terpaksa menahan gejolak amarah itu dalam hati. Rani memegang tanganku. Sengaja ia datang jauh-jauh demi menemani makan siang dengan Mas Azmir. Aku takut berdua saja dengan lelaki itu, takut hal yang sama terjadi lagi.
"Udah mau nyampe, jangan nangis," kata Rani.
***
"Tumben pakai jaket, Sayang? Biasanya juga dress biasa. Dingin, ya?" tanya Mas Azmir. Aku dan Rani beradu tatap. Haruskah berbohong lagi? Rani mengedipkan mata untuk meyakinkan hatiku saat ini.
"Nggak juga, Mas. Lagi pengen aja. Jaket ini lama nggak dipakai jadi sayang disimpen terus hehe," jawabku. Mas Azmir mengangguk pelan sambil terus menyantap makanannya.
"Oh, iya, Ran. Sekarang kerja di mana?"
"Sekarang nganggur dulu, Az. Gue nggak tahu mau kerja apaan selepas SMA kemarin," jawab Rani. Mereka berdua terlihat akrab. Maklum, satu alumni angkatan SMA dulu.
Setelah itu, hening di antara kami untuk sesaat. Ponselku bergetar tanda ada panggilan masuk. Segera aku bangkit dan menggeser tombol hijau itu.
"Halo?"
[May, pulang sekarang. Ada Mbah Rondo di rumah.]
"Ngapain, Bu?"
[Nggak usah banyak tanya!]
"I-iya, Bu, May pulang sekarang."
Tuuut ....
"Mas, aku disuruh pulang sama ibu. Ada Mbah Rondo di rumah," ucapku. Mas Azmir langsung mendongak dan meletakkan sendok di atas piring.
"Lho, sekarang?"
"Iya, Mas. Tau sendiri 'kan Ibu nggak suka nunda-nunda. Kalian lanjut aja makannya. Aku bisa naik angkot."
"Aku antar aja, Sayang. Kamu lagi hamil lho nanti kenapa-kenapa di jalan."
"Nggak usah, Mas. Aku bisa sendiri. Kasihan Rani sendirian. Makan aja sampai selesai, ya." Akhirnya Mas Azmir mengalah. Ia mengusap bahuku dan tersenyum tipis.
Sepanjang perjalanan, hatiku bertanya-tanya. Ada perlu apa Mbah Rondo datang ke rumah? Bukankah kemarin sudah diberi bunga melati, atau ada hal lain yang belum tersampaikan?
"Assalamu'alaikum," ucapku.
Mbah Rondo menyungging senyum, lalu ekspresinya berubah seperti orang yang ketakutan. Ia terus menatap ke belakangku, mungkin ada sosok menyeramkan di sana. Aku menaruh tas dan duduk di samping ibu.
"Ini, Mbah anak saya."
"Hm ... hm ...."
"Kenapa, Mbah?" tanyaku akhirnya. Mbah Rondo terus menatapku kosong. Ibu yang tadinya tenang mendadak khawatir. Mbah Rondo seperti mengambil sesuatu dalam tasnya. Sebuah dupa dan bunga melati ... lagi.
Ia membakar dupa itu lalu menyebarkan asapnya ke sekeliling tubuhku. Di situ merasa ada sesuatu yang hendak masuk dan mengambil alih kesadaran. Mbah Rondo menutup kedua mataku dengan tangannya. Napas yang berburu, juga detak jantung yang semakin cepat membuatku gelagapan.
"Mbah, anak saya kenapa?" tanya ibu.
Seperti biasa, Mbah hanya menggumam. Ia seperti membaca sesuatu. Asap dupa ini mengganggu pernapasanku. Namun, tiba-tiba aku merasakan panas di daerah lengan.
"Mbaaah! Sakit ...!" ucapku ketika merasakan sakit luar biasa di dada. Bagai ditusuk ribuan jarum, menyiksa. Tubuh bergetar, tangan mengepal kuat. Keringat dingin bercucuran dan aku mulai menangis.
"Tahan, May, tahan."
"Mbaaah ...." Aku sudah tak tahan lagi. Semakin kuat aku memberontak, jin itu seperti enggan keluar dari tubuh. Mbah Rondo berhenti membaca mantra dan menurunkan tangannya.
Ketika membuka mata, pandangan gelap. Napasku tiba-tiba terasa begitu sesak.
'Aku tidak akan keluar!'
"Siapa?" Mbah Rondo yang terkejut melihatku berbicara sendiri langsung menggenggam tanganku.
'Aku adalah kamu. Kamu adalah aku.'
"Apa maksudmu?"
"Siapa kamu, hah? Keluar dari tubuhku! Jangan siksa aku begini."
Dan akhirnya ....
Cairan merah itu kumuntahkan begitu banyak. Tidak hanya darah, ada beberapa jarum tergeletak di sana. Apakah aku terkena sihir ilmu hitam? Ya Tuhan, mengapa ini semakin membingungkan!
***
Terbangun.
Tiba-tiba aku sudah berada di dalam kamar. Di mana ibu dan Mbah Rondo?
"May, kamu harus diruqyah," kata Ibu yang muncul di balik pintu.
"Tapi, Bu, buat apa? May benar-benar dihamili setan?" Aku tergugu, tak menyangka kejadian aneh ini menimpa diri sendiri. Wanita 45 tahun itu tak menjawab, ia memberi ekspresi aneh lalu pergi.
Aku bangkit dan hendak bercermin. Merapikan rambut dan membersihkan wajah. Berantakan sekali. Lama kutatap bayangan sendiri di cermin. Masih Mayang yang dulu. Tidak ada yang berubah, kecuali nasib membingungkan dan menyiksa batin ini.
"Aaargh ...!"
Sudah, aku muak! Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku ini? Teka-teki apa yang sedang direncanakan Tuhan? Tidak ada titik terang, hanya praduga dan tebakan. Seandainya Mbah Rondo bisa bicara, masalah ini pasti cepat menemukan jalan keluar. Aku hanya butuh jawaban iya atau tidak.
Sungguh, aku sudah menyerah.
Sekarang, hanya mengikuti alur takdir membawaku ke mana.
***
Satu minggu menjelang hari pertunangan, ibu dan bapak sibuk mempersiapkan segalanya. Nenek juga menginap di sini untuk membantu bagian konsumsi. Untung saja perutku belum terlihat sedang mengandung. Masih rata seakan-akan tidak hamil. Ini bagus untuk menjaga rahasia dari keluarga besar, termasuk nenek.
"May, auramu gelap betul. Sakit?" tanya nenek curiga.
"Eum ... nggak kok, Nek."
"Atau ...."
Ekspresi nenek yang tadinya teduh mendadak ketakutan. Ia bangkit dan seperti menghindar dariku. Nenek memang bisa melihat jin. Apa dia melihat sosok menyeramkan di sekitar?
Aku tidak tahu tapi ... mendadak kepalaku sakit lagi.
***
BERSAMBUNG ..


KISAH SERAM 📛 MELAYU BERSIRI
TAJUK CERITA : LUKA MAYANG
KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH
HASIL KARYA : ZYLAN AGATHA
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/luka-mayang-kisah-wanita-yang-dibunuh.html

PART 5
Aku mengetuk pintu kamar Nenek. Sikapnya jadi aneh dan aku mulai khawatir. Tidak ada jawaban di sana. Berulang kali menyebut namanya tapi ia tak menjawab apalagi membukakan pintu. Ada apa denganmu, Nek? Jangan membuatku takut.
"Nek ... Nenek kenapa?"
"Nek, bukain pintunya. May mau ngomong," lanjutku sambil terus mengetuk pintu.
"Nenek, jangan bikin May khawatir gini. Tadi kenapa?"
Seseorang menepuk bahuku—pelan, tapi cukup mengejutkan. Aku berbalik dan mendapati tubuh besar itu sedang memperhatikanku sejak tadi.
"Kenapa?" tanyanya.
"Nenek ... dia aneh tadi, Pak. Tiba-tiba masuk kamar, nggak mau lihat Mayang," jawabku. Bapak pun mendesah pelan, ia maju selangkah dan ikut mengetuk pintu.
"Kamu yakin nenek ada di dalam?" tanya bapak memastikan.
"Yakin, Pak. Tadi May lihat sendiri nenek ketakutan terus masuk ke kamar," jawabku dengan mata yang mulai basah. Ya, air mata ini akan segera jatuh membasahi pipi. Cengeng, sangat. Jika melihat perubahan nenek yang tiba-tiba, aku khawatir dan entah mengapa perasaan ini mendadak kurang nyaman.
Bapak mundur selangkah lalu merangkul bahuku. Sebuah pelukan yang begitu nyaman dari cinta pertama anak perempuannya. Namun, entah mengapa, pelukan ini terasa familiar. Aku nyaman, aku merasa lebih disayangi dari sebelumnya. Sebuah dekapan kasih sayang yang tak pernah Azmir berikan padaku. Jarang sekali ia memeluk, hanya ketika ingin atau rindu.
"Emang tadi nenek kenapa?" tanya bapak sambil melonggarkan pelukannya.
Aku melepas pelukan dan menceritakan kejadian tadi. Bapak manggut-manggut tanda mengerti. Ia menghela napas berat, lalu beberapa kali menggumam. Ikut penasaran dan khawatir, ketakutan apa yang menimpa nenek.
"Nenek!" Pupil mataku melebar bersamaan dengan seulas senyum. Nenek membukakan pintu sambil membawa ....
Apa ini? Dupa?
"Nek, apa-apa ini?" tanyaku penasaran. Nenek hanya diam tanpa menatapku sama sekali. Ia sibuk menyebar asap tiga dupa ke sekeliling tubuhku. Bau asapnya kali ini sedikit berbeda dari dupa Mbah Rondo beberapa waktu lalu. Lebih pekat dan membuat dada sesak.
Aku terbatuk-batuk, tapi nenek seakan tak peduli akan hal itu. Bapak membawaku ke sofa, diikuti nenek dari belakang. Sesekali menoleh ke belakang, wajah nenek berubah ketakutan. Ia mendongak dan kami beradu tatap.
"Nek!"
Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Sedangkan aku dipaksa duduk oleh bapak, tapi menolak. Nenek berdiri tepat di hadapan, dengan dupa yang sudah terbakar setengahnya. Seperti dugaan, akan ada hal yang terjadi. Kepala mulai pusing, mata kabur, dan tangan kaki bergetar.
Aku menutup mata karena merasa tidak nyaman. Seperti ada kekuatan lain yang memaksa untuk keluar. Ya, aku seperti bermimpi sekarang. Tak bisa berbuat apa-apa tapi masih merasakan sesuatu di luar kesadaran. Ini semacam ketindihan, bedanya aku tidak berbaring.
Samar-samar, bapak memanggil seseorang untuk mengambil air minum.
"Kaukah itu?" Suara nenek, sayup-sayup terdengar. Mata seakan terkunci, sulit sekali untuk dibuka. Seluruh tubuh kaku dan seperti ada jiwa lain yang memaksa untuk mengendalikanku sepenuhnya. Hatiku menangis, ingin lepas dari belenggu jin ini secepatnya.
"Aaargh!"
"Mayang!"
***
Ketika sadar, aku sudah berada di dalam kamar. Gelap, sepi, tanpa seorang pun yang menemani. Hanya ada sepiring beras dan garam di samping—yang entah untuk apa diletakkan di sini. Saat hendak bangkit dan mengambil air, tiba-tiba aku merasa perih luar biasa di daerah tangan.
"Apa-apa ini? Kenapa bisa luka!" Aku panik, pergelangan tangan sebelah kiri diperban. Ada bekas darah di sana, pertanda luka yang cukup dalam. Siapa yang melakukan ini padaku? Tak mungkin bapak atau nenek.
Sreeek ... sreeek ... sreeek!
"Si-siapa di sana?"
'Aku adalah kamu, kamu adalah aku.'
'Aku kembali.'
Hati ini, seperti ada yang menjawab setiap pertanyaanku. Namun, entah siapa dan di mana dia, aku tidak tahu. Ia tak berwujud, tak ada tanda-tanda jelas keberadaannya. Jika memang benar diganggu jin, harusnya aku bisa melihat wujudnya bagaimana.
"Tolong ... jangan ganggu aku. Siapa pun kamu, apa maumu sebenarnya?" Tak ada jawaban. Hanya suara tirai yang tersibak sendiri tanpa angin yang menggerakkan. Atau suara orang mencakar dinding yang terdengar menakutkan.
Seseorang membuka pintu, aku buru-buru baring dan menutupi diri dengan selimut.
"May?"
"Kamu ngomong sama siapa tadi?" tanya nenek sambil mengernyitkan dahi. Aku menghela napas, lalu menatap ke sekeliling. Semuanya tampak normal. Tidak mencekam seperti tadi. Nenek bangkit dan menyalakan lampu.
"Nggak tau sama siapa, Nek. Intinya May kayak orang gila, nanya sendiri, ada yang jawab sendiri," jawabku. Mungkin nenek kurang mengerti hingga tatapannya datar mengarah kepadaku.
"Pikiran May kayak terbagi dua. Kayak ada jiwa lain yang berdiam di tubuh May sekarang. Dia yang menjawab semua pertanyaan May. Tapi bingung di mana asal suaranya," lanjutku menjelaskan. Nenek meraih tangan kiriku yang diperban. Sedikit menyentuhnya hingga aku meng-aduh kesakitan.
"Kamu mau tau apa yang terjadi tadi? Coba lihat luka di lehermu kemarin. Kamu yakin itu bukan karena orang lain?" Nenek membuatku takut. Ya, jika dipikir-pikir memang, darimana luka ini berasal? Aku tidak sadarkan diri dan tahu-tahu sudah mendapatkan luka ini.
"Apa, Nek?" kataku balik bertanya. Ia tersenyum singkat, lalu kembali berekspresi aneh dan tak biasa.
"Tadi, waktu nenek membacakan do'a-do'a dan menyebar asap dupa, matamu berubah merah dan kosong menatap ke depan. Bibirmu pucat, tanganmu tak berhenti meraih vas bunga di atas meja," kata nenek mulai menjelaskan apa yang tadi kualami.
"Bapakmu pergi karena takut, Nanda yang datang bawa air minum tapi kamu pukul tangannya dan gelas itu jatuh. Pecah," lanjutnya. Aku memandangnya dengan wajah serius sekaligus tak percaya. Ternyata di balik ketidaksadaranku, semua yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Tak menyangka.
"Kamu bangun terus lari ke dapur. Mengacak-acak tempat piring dan cari pisau di sana. Nenek langsung panggil ibumu."
Setelah itu, mungkin aku bisa menebaknya sendiri. Sebelum ibu datang, pisau itu telah mengiris pergelangan tangan. Nenek tak berdaya karena takut makhluk di dalam tubuhku ini akan semakin mencelakai.
Nenek tak berkata apa-apa lagi setelah itu. Ia bangkit dan mematikan lampu. Padahal rasa penasaranku belum terobati sepenuhnya. Aku merasa nenek menyembunyikan rahasia besar dan itu tentang keberadaan jin ini.
***
"Nanda," panggilku. Putri kecil itu sedang bermain dengan boneka Barbie-nya.
"Iya, Kak May?"
"Kamu gak papa? Tadi kena beling nggak?" tanyaku. Ia menggeleng pelan, lalu tersenyum.
"Gak kena kok, Kak May. Pas Kakak pukul tangan Nanda, nenek suruh mundur ke belakang," jawabnya lugu. Aku menghela napas lega. Ia tak terluka.
Perih.
Aku takut jika tak bisa mengendalikan diri sendiri. Kemudian mencelakai orang yang kusayangi. Untuk nenek dan Nanda, mungkin hanya sekali ini diberi keberuntungan. Mereka selamat meski benda tajam berada di hadapan. Namun, bagaimana jika ini terjadi lagi dan aku tak sengaja melukai?
"Kak May kenapa nangis?" Aku buru-buru mengusap mata. Gadis lugu di hadapanku ini tentu tak paham apa yang tengah menjadi garis takdirku. Pahit dan berliku-liku.
"Nggak kok. Oh, iya tadi kamu lihat nggak Kak May kenapa?"
"Eum ... tadi itu Kak May serem banget. Sampe mau nyakar om. Terus mukanya Kak May pucet, Nanda aja takut," jawabnya. Aku terdiam. Anak kecil sepertinya tak mungkin berbohong.
Aku bangkit dan keluar. Namun, tiba-tiba ada yang menarik bajuku.
"Oh, iya, Kak. Tadi waktu nenek bacain do'a, Kakak ngomong 'aku kembali, aku kembali'. Terus nenek kayak marah gitu. Nenek ngebentak, Kak May juga balas ngebentak. Nggak boleh gitu, Kak. Kata Mama, bicara kasar sama yang lebih tua itu dosa," jelasnya. Aku berjongkok, menyesuaikan tinggi badan dengannya.
"Iya, lain kali nggak gitu lagi. Jangan dicontoh, ya, 'kan nggak baik," kataku sembari mengusap kepalanya. Ia berbalik badan dan naik ke atas kasur; kembali bermain seorang diri.
Aku duduk di kursi panjang samping rumah. Sesekali menjentikkan jari, atau merobek dedaunan kering yang jatuh di atas kursi. Tak terasa, bulir-bulir air mata menganaksungai. Aku merasa kasihan pada diri sendiri. Kapan teka-teki ini akan segera terungkap? Apa yang disembunyikan nenek sebenarnya?
Jujur saja, aku sudah lelah.
Cukup muak dan ingin pergi sejauh mungkin.
Lalu tak akan pernah kembali ....
Lagi.
***
BERSAMBUNG ..

KISAH SERAM 📛 MELAYU BERSIRI
TAJUK CERITA : LUKA MAYANG
KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH
HASIL KARYA : ZYLAN AGATHA
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/luka-mayang-kisah-wanita-yang-dibunuh.html

PART 6
Hari pertunangan.
Mayang sengaja memakai gaun yang sedikit longgar untuk menutupi lekuk tubuh. Menyembunyikan kehamilan dari semua orang, termasuk keluarga Azmir. Bagaimana jadinya jika mereka tahu bahwa ia tengah mengandung? Ini aib besar, tak bisa membayangkan kehancuran jika kesalahan kecil ia lakukan.
"Bersikap normal aja biar nggak ketahuan. Sebenernya nggak terlalu kelihatan. Perutmu masih kecil. Jaga-jaga aja," kata ibunya. Mayang menyunggingkan senyum terbaiknya, meski ada luka dan perih yang disembunyikan.
"Tapi, Bu gimana dengan luka leherku? Bekasnya masih kelihatan," kata Mayang.
"Pakai kalung ini, ketutup rambutmu juga nanti. Setidaknya nggak terlalu kelihatan," jawab ibunya sambil merapikan rambut Mayang.
Di luar sana, tamu-tamu mulai berdatangan. Acara yang dinantikan ini harusnya berjalan dengan baik, tanpa halangan atau kejadian yang membuat segalanya berantakan. Sebisa mungkin Mayang bersikap biasa-biasa saja di hadapan tamu undangan. Ia menuruni tangga dengan anggun ditemani ibunya.
"Baiklah untuk mempersingkat waktu, kita mulai saja acara pertunangan ini," ucap pembawa acara.
Ketika Mayang disandingkan dengan Azmir, tiba-tiba ia merasa tak nyaman di daerah perut. Mungkin mual karena efek mengandung. Mayang meminta izin sebentar untuk pergi ke toilet. Ibunya yang heran ingin menyusul tapi ditahan sang nenek.
"Aduh, sakitnya," keluh Mayang. Ia tidak memuntahkan apa pun. Dadanya terasa sesak, keringat dingin mengucur deras. Karena hampir 20 menit menunggu, akhirnya Mawar datang memeriksa.
Tok, tok, tok!
"May, buka pintunya. Kamu kenapa? Ayo cepetan udah ditunggu itu," kata Mawar. Mayang menoleh, ia ragu membuka pintu itu. Dengan cepat dia mengusap keringat dan memperbaiki rambut. Berjalan pelan menuju pintu dan membukanya.
"Ngapain? Udah ditunggu buat tukar cincin."
"Tadi May mual, Bu," jawabnya parau. Mawar mendesah pelan dan menarik tangan Mayang.
Suasana yang cukup ramai membuat Mayang terasa sesak. Baginya, orang-orang ini tak semestinya berada di sini. Ia harusnya ditinggalkan sendiri. Diasingkan tanpa teman dan berkawan dengan sepi.
"Cantik banget calon mantuku, apa kabar?" tanya Ihda, ibu Azmir.
"Alhamdulillah baik, Bu. Ibu sendiri bagaimana?"
"Baik juga. Tapi kok mukamu pucet banget? Sakit?" Ihda terlihat khawatir, ia memegang pipi Mayang dan terasa dingin.
"Ah, nggak, kok, Bu. Hawanya agak dingin jadi May menggigil," jawabnya berbohong. Ihda mengangguk dan tersenyum simpul.
"Beruntung banget Azmir dapet calon istri kayak kamu. Manis, cantik, baik, dan lugu," kata Ihda bangga. Bagi kebanyakan wanita, itu merupakan pujian terindah. Kapan lagi dibanggakan calon mertua sendiri? Namun, tidak untuk Mayang. Secara tidak langsung, itu adalah penghinaan. Mayang tidak selugu itu.
"Makasih, Bu," ucapnya datar.
Azmir di sana berjalan pelan menuju Mayang sambil menyembunyikan sesuatu di balik badannya. Mayang tersenyum bahagia. Tepat hari ini, ia akan resmi berkomitmen dengan kekasihnya.
"Imut banget anak bapak, udah makan?" tanya Kadir yang tiba-tiba muncul di depan Mayang. Menghalangi jarak pandang Azmir untuk melihat kekasihnya itu. Mayang sedikit terganggu tapi ia memilih tak mengatakan apa-apa. Diam dan mematung di tempat.
"Kok ditanya diem?"
Mayang mendongakkan kepalanya. "Iya, Pak udah tadi," jawabnya ragu. Kadir mengelus puncak kepala Mayang, lalu menghilangkan jarak di antara mereka. Ia mendekatkan bibir ke telinga Mayang, lalu membisikkan sesuatu.
"Bapak!" teriak Mayang terkejut. Entah apa yang dikatakan bapaknya hingga ia berteriak kencang. Kadir buru-buru mencairkan suasana dengan menjelaskan kepada tamu undangan.
"Ah, maaf. Anak saya emang begini kalau lagi seneng," katanya. Mayang mengernyitkan dahi sambil meremas gaun merahnya; ia geram. Ekspresi bahagia itu berubah jijik dan hina.
***
Selesai acara pertunangan, Azmir menarik tangan Mayang menuju luar. Mayang menepis tangan Azmir karena mengeluh kesakitan.
"Lepasin, sakit!"
"Bapak ngomong apa ke kamu tadi?" tanya Azmir. Wanita itu menunduk, tak berani menatap pria di hadapannya.
"Mayang, jawab!" paksa Azmir membuat Mayang semakin tertekan. Ia meremas kedua bahu Mayang hingga wanita itu memberontak ingin dilepaskan.
Haruskah ia menjawab? Ini petaka, bahkan Azmir pun tak seharusnya mengetahui ini.
"Aku ... aku takut," kata Mayang. Suaranya bergetar tanda ia tak kuasa menahan tangis.
"Tapi kamu janji jangan marah, aku akan cari jalan keluarnya. Karena aku ngerasa ini janggal. Aku ngerasa nggak ngelakuin apa-apa. Tolong kamu jangan salah paham dulu sebelum semuanya jelas," lanjutnya sambil memegang tangan Azmir.
"Aku mencintaimu."
"Ok, aku bakal coba percaya sama kamu," kata Azmir. Mayang tersenyum dan mendekat. Hendak membisikkan sebuah rahasia besar sekaligus aib baginya.
Sedetik setelah Mayang berbisik, ekspresi Azmir mendadak berubah. Ia terkejut dan tak mampu berkata-kata.
***
"Aku cemburu."
"Cemburu kenapa? Karena tadi aku mengikat janji dengan Azmir? Haha, tenanglah. Dia pelampiasan, aku hanya mencintaimu."
"Iya, aku percaya. Hatimu untuknya, tapi seluruh tubuhmu, adalah milikku."
"Ayo ...."
***
Tok, tok, tok!
Seseorang mengetuk pintu kasar, Mayang mengusap matanya dan bangkit untuk memeriksa. Rasa sakit kembali menyerang perut bawahnya.
"Nenek?"
"Jam segini baru bangun? Cepat mandi dan bantu-bantu ibumu masak," perintah nenek. Mayang heran dengan sikap nenek yang berubah drastis sejak kejadian hari itu. Dulu, sang nenek berkata lembut dan penyayang. Sekarang, rasa-rasanya semua yang dilakukan Mayang itu salah.
"Iya, Nek."
"Ya, ampun. Pantes nenek marah. Udah mau jam delapan tapi aku masih nyenyak tidur. Biasanya juga jam lima bangun, kok sampe kesiangan begini?" gumam Mayang. Ia merasa heran karena biasanya sudah terbiasa bangun subuh. Seluruh tubuhnya terasa begitu lelah. Habis melakukan apa semalam?
"Astaga ... jangan-jangan ...." Ia membekap mulutnya sendiri lalu berlari ke toilet. Membasahi seluruh wajah dengan air, menatap ke cermin. Ya, inilah Mayang yang sekarang.
Ketika ia membuka pintu, Mayang terkejut dengan kehadiran Kadir di sana. Kadir tersenyum memandang putrinya.
"Makasih buat semalam," kata Kadir. Mayang kebingungan dan mengernyitkan dahi. Ada apa dengan semalam?
"Apa ... apa semalam?" tanya Mayang.
"Kamu lupa atau pura-pura polos?" Pria yang usianya hampir menginjak kepala lima itu berkacak pinggang. Puas rasanya telah menikmati tubuh putrinya sendiri.
Ya, ayahnya sendiri pelakunya selama ini.
"Bapak! Kenapa tega? Aku putrimu. Emangnya kenapa sama Ibu?" Mayang emosi, air matanya menganaksungai.
"Aku bosan sama ibumu! Udah tua, udah basi! Aku pengen cari anak muda, tapi selagi ada anak perempuan, ngapain cari yang lain?" Kadir terkekeh, lalu ia mengelus pipi mulus Mayang.
"Pak, ini dosa! Jadi anak ini ...."
"Iya, itu anakku. Anak kita," ucapnya. Bagai tersambar petir di siang bolong, Mayang terkejut bukan main. Pertahanannya hancur saat itu juga. Ia terjatuh.
Ternyata, Kadir telah melakukan hubungan sedarah ini sudah lama. Sekira empat atau lima bulan yang lalu, awal kehancuran itu terjadi dan Mayang tak menyadari. Barulah ketika ia mengetahui kehamilannya yang berusia empat bulan, kejanggalan ini membuatnya bingung.
Sekarang, ia tahu bahwa anak ini bukan darah daging calon suaminya. Bukan juga anak hasil pemerkosaan. Ia hamil anak bapaknya sendiri. Perlahan, misteri itu terkuak, tapi bagaimana bisa ia tak sadar ketika Kadir merenggut kesuciannya?
Tidak, ada yang salah dengan ini. Mayang merasa tidak pernah melakukan dosa sehina itu. Ia merasa masih suci dan tak pernah tersentuh.
Jin itu.
Jin yang bersemayam di tubuhnya.
Apakah ia yang melakukan itu semua?
***
BERSAMBUNG ..


KISAH SERAM 📛 MELAYU BERSIRI
TAJUK CERITA : LUKA MAYANG
KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH
HASIL KARYA : ZYLAN AGATHA
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/luka-mayang-kisah-wanita-yang-dibunuh.html

PART 7
"Nenek! Mayang mau tanya sesuatu," ucap Mayang tiba-tiba. Neneknya yang sedang menampi beras, langsung mendongak. Mayang duduk di samping neneknya, menyiapkan kata demi kata lalu dirangkai menjadi sebuah pertanyaan besar untuknya.
"May yakin nenek tahu semua ini. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang ada di dalam tubuh May?" Bibir wanita itu bergetar ketika mengeluarkan semua tanda tanya di dalam pikirannya.
"Jin, May. Jin, nggak ada yang lain," jawab nenek. Mayang masih tak merasa puas dengan jawaban itu, memilih untuk bertanya lagi.
"Bohong, pasti ada sesuatu yang nggak May tau. Nek ... May mau memberitahu sesuatu, hal yang besar dan ini memalukan. Tapi tolong percaya sama May," katanya mengiba. Nenek mengangguk ragu, lalu melempar pandang ke sembarang arah; malas.
"May ... hamil," lanjutnya. Nenek langsung menoleh ke arahnya, melempar tatapan tajam dan menakutkan.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Mayang. Wanita itu meng-aduh, air matanya meleleh seketika. Ia tak menyangka, sosok penyayang selain ibunya kini telah menampar pipinya.
"Nenek ...," lirihnya. Mata neneknya merah, berkaca-kaca. Nampan beras ia letakkan di samping, lalu bangkit dan menarik tangan Mayang pergi entah ke mana.
***
"Siapa ayah dari bayi ini? Kapan kamu melakukan?" tanya nenek.
"Nek, denger penjelasan May dulu. May sama sekali nggak ngerasa pernah melakukan itu. May merasa masih suci. Ba-bapak yang ngelakuin ini, Nek," jawabnya menunduk.
"Bayi ini bukan anak jin. Tapi May benar-benar ngerasa nggak pernah melakukan, sama sekali nggak! May tahu ini dosa, Nek. Tiba-tiba langsung seperti ini," lanjutnya sambil sesenggukan.
Sang nenek tak menjawab, ia memilih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mayang menunggu sepatah dua kata itu keluar dari bibir neneknya. Ia berharap akan diberi kesempatan mencari tahu hal yang sebenarnya, meski butuh banyak pengorbanan.
"Nek, May janji bakal cari apa yang terjadi. Asal nenek percaya sama May gak pernah melakukan hubungan sedarah ini," katanya lagi. Ia benar-benar mengiba. Berharap langit mengasihinya kali ini saja.
"Neeek ... jawab Mayang. Bantu May cari obat. Bisa-bisanya May nggak sadar waktu ditiduri Bapak."
Hening di antara mereka untuk beberapa saat. Mayang sudah menyerah. Entah bagaimana lagi caranya membujuk sang nenek. Ia memilih diam, menatap tangan keriput wanita itu dengan wajah sendu.
***
Jangan sampai ibunya tahu akan hal ini. Ia harus menjaga dan mengubur rahasia besar dari siapa pun lagi, termasuk ibunya. Hatinya menangis, ia terlalu lemah menanggung beban ini sendirian. Dosa apa yang telah ia lakukan di masa lalu hingga Tuhan mencampakkannya sekejam ini? Bagaimana bisa ia tak sadarkan diri ketika si bejat itu meniduri Mayang?
Ini masih menjadi teka-teki. May mengusap air mata dan menekan nama Azmir di kontak teleponnya.
"Mas, bantu aku cari solusi. Otakku benar-benar buntu."
Lelaki yang resmi menjadi calon suaminya itu mendesah kecil. Deru napasnya menjadi pertanda bahwa ia juga ikut kebingungan. Bencana apa yang menimpa Mayang hingga menimbulkan misteri serumit ini?
[Iya, Sayang. Mas bakal bantu kamu, meski keluar uang banyak. Asal kamu sembuh.]
Menenangkan, Mayang lega. Azmir tak marah, malah ikut mendukungnya. Ia tersenyum dalam luka. Bertahan dalam penderitaan.
"Mas ... nggak marah?" tanyanya. Azmir terkekeh.
[Kamu siap-siap. Kita jalan-jalan sebentar. Ketemuan di tempat biasa.]
***
Dua insan yang tengah dimabuk cinta itu duduk berdampingan. Tangan Mayang yang selalu bergetar jika dipegang oleh Azmir, membuat pria itu gemas. Mereka saling beradu tatap, hingga salah satu darinya mencairkan suasana.
"Mas, kamu percaya sama aku?" tanya Mayang dengan binar mata yang tampak jelas. Azmir meliriknya sekilas, lalu menggenggam tangan kanan Mayang.
"Percaya. Kita udah lama pacaran, masa aku nggak tau sifat calon istriku ini. Nggak mungkin ngelakuin hal sebejat itu," jawab Azmir teduh. Mayang merasa bersalah, ia telah gagal menjaga mahkota sucinya untuk Azmir. Bulir-bulir penyesalan dan pedih itu jatuh setetes demi tetes.
"Maaf, Mas. Aku nggak bisa jaga kesucian, sekarang aku udah ternoda. Maaf ...."
Lelaki 25 tahun itu menatap puncak kepala Mayang cukup lama. Dilihatnya sang kekasih yang sedang menangis, menderita batin. Lalu, ia menarik Mayang ke dalam dekapan. Wanita itu terkejut, tapi ia tak menolak. Inilah yang diinginkannya sejak lama. Waktu berdua.
Dalam pelukan Azmir, ia tersenyum malu. Iseng-iseng memasukkan tangan ke kantung jaket Azmir.
"Mas ...," panggilnya pelan, hampir tak terdengar.
"Iya, Sayang."
"Sekarang aku tau, ini anak siapa. Satu persatu teka-teki ini terbongkar. Tapi ... ada satu hal lagi," ucap Mayang lalu melepas pelukan. Azmir mendengkus pelan, menunggu kata-kata selanjutnya.
"Apa?"
"Kenapa aku nggak sadar sama sekali waktu itu, Mas? Nggak ada tanda-tanda dia melakukan itu. Aku hidup normal selama lima bulan terakhir."
"Mungkin bapak ngasih kamu obat apa gitu supaya nggak sadar. Coba inget, sebelum itu dikasih makan atau minum apa sama dia?" tanya Azmir. Ia juga penasaran apa yang telah terjadi.
"Ng ... nggak ada, Mas," jawab Mayang. Azmir memijit keningnya, lalu bangkit. Ia menarik tangan Mayang dan mengajaknya ke suatu tempat.
"Mau ke mana, Mas?"
Sambil merapikan jaket Mayang, Azmir berkata, "Kita jalan-jalan seharian hari ini. Kamu mau makan apa bilang, ya. Supaya kamu nggak stres." Mayang mengangguk pelan. Rasanya ia jijik dan tak rela mempertahankan kandungan ini. Seandainya aborsi tidak dosa, mungkin ia sudah lama melakukan tindakan itu.
***
"Darimana kamu?"
Mayang dikejutkan oleh sosok wanita yang tak lain adalah ibunya. Mawar memasang wajah curiga dan tak sedap dipandang.
"Habis jalan-jalan sama Azmir, Bu," jawab Mayang ragu. Mawar langsung menarik tangan anaknya itu dan menutup pintu.
"Jangan suka keluar rumah! Gimana jadinya kalau tetangga tau kamu lagi hamil, hah? Mau taruh di mana muka ibu!" bentak Mawar.
"Mau jawab apa kalau ditanya ini anak siapa!"
"Bu, sudah, Bu. Mayang nggak salah. Saya yang ngajak dia tadi, kasihan di rumah terus." Azmir datang berusaha melerai. Namun, Mawar bak kesetanan, ia tak memedulikan kehadiran Azmir di sana.
Mayang terdiam, ia mengusap air mata dan masuk ke kamar. Percuma juga menjelaskan, Mawar takkan mau mendengarkan. Entah hukuman apa yang sedang ia jalani belakangan. Air mata dengan mudahnya jatuh dan membuka kembali luka lama. Sakit sekali ketika mengingat, Mayang yang murah senyum dan selalu ceria. Sekarang, ia bagai raga tanpa nyawa.
"Aku hidup, tapi terasa mati. Sebenarnya apa yang terjadi! Aku muak!"
Ia meremas rambutnya sendiri. Tak peduli sakit yang dirasa, jika itu bisa meredakan emosinya, maka akan dilakukan. Lalu, pertahanannya rubuh. Ia berteriak histeris, mengeluarkan semua emosi di dalam dada. Jatuh bersama tetesan air mata yang menjadi penanda bahwa ia sudah lelah.
Cukup, hanya sampai di sini. Mengapa Tuhan begitu keji? Sebesar apa dosanya di masa lalu hingga karmanya sepedih ini?
Ia terus menyakiti diri, menghantamkan kepala ke tembok. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah tindakan bodoh. Namun, jika berada di posisinya, ini adalah hal yang wajar. Ia sudah lelah, memilih mati seandainya jika bisa.
"Jin! Jin itu. Dia pelakunya!"
***
Suasana rumah yang tadinya tenang menjadi mencekam. Tiba-tiba, Mayang keluar dari kamar dengan kondisi yang mengerikan. Ia berlari menuju dapur dan mengobrak-abrik hingga berantakan. Nenek yang melihat kegaduhan itu langsung mengambil tiga dupa yang dibakar.
"Mayang! Sadarlah! Sadar!" ucap nenek. Mayang mengambil sebilah pisau di tempat sendok dan mengancam akan bunuh diri. Ujung pisau itu sudah berada di depan lehernya sendiri. Nenek yang panik berteriak memanggil Mawar.
"Keluar kamu! Iblis jahat! Keluar dari tubuh cucuku!" perintahnya sambil terus menyebar asap dupa. Mayang tertawa kencang, bak menertawakan orang di hadapannya.
"Keluar atau kamu akan mati!" ancam nenek.
"Mati? Kalau kau mau aku mati, pemilik raga ini juga harus mati!"
"Apa yang mau kamu lakukan di situ, hah?"
"Kau sudah lupa, Tua Bangka? Aku tidak akan keluar dari sini karena Mayang adalah rumahku. Kau diam saja di situ atau ... cucumu yang akan mati!"
"Mayang!"
"Aaakh ...!"
***
BERSAMBUNG ..

KISAH SERAM 📛 MELAYU BERSIRI
TAJUK CERITA : LUKA MAYANG
KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH
HASIL KARYA : ZYLAN AGATHA
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/luka-mayang-kisah-wanita-yang-dibunuh.html

PART 8
"Udah bangun? Nih, minum dulu," ucap Azmir sembari mengangkat leher Mayang dan memberinya air putih. Setelah itu, Mayang memilih jatuh ke pelukan calon suaminya. Ia lelah, sesekali terdengar suara isakan dari bibir mungilnya.
"Kenapa nangis?" Azmir mengusap bahu Mayang. Ia terkejut melihat kejadian tadi. Sikap dan penampilan Mayang begitu aneh dan berbeda dari biasanya. Mayang yang dikenal santun dan pendiam, tiba-tiba menjadi aneh dan menakutkan.
Mayang menggeleng pelan, lalu mengeratkan pelukannya. "Aku capek, Mas. Sampai kapan aku begini? Kalau tanpa sadar aku menyakiti kalian bagaimana?"
"Itu 'kan bukan kamu. Tapi ada yang lain di dalam tubuhmu. Aku ngerti kok," kata Azmir menenangkan. Mayang kembali menangis. Ia menatap pergelangan tangannya yang kembali terluka.
Azmir juga bingung, ia penasaran. Apakah benar ada jin sekuat itu yang tinggal di tubuh Mayang? Ataukah Mayang mempunyai kepribadian ganda? Jika memang iya, mengapa baru muncul sekarang? Beberapa minggu sebelum hari pernikahan mereka, banyak persoalan yang harus dihadapi bersama. Termasuk tanda tanya besar yang mengusik pikiran keduanya.
Mbah Rondo ....
Ya, hanya kakek tua itu yang bisa membantu Mayang. Jika tak bisa berbicara, setidaknya ia bisa berkomunikasi dengan bahasa tubuh, bukan?
"Sayang, besok kita ke Mbah Rondo aja, ya? Kita pastikan betul-betul sebenarnya kamu ini kenapa. Karena jujur aku juga bingung dan khawatir," ucap Azmir.
"Hu'um," balas Mayang singkat. Azmir kembali menariknya dalam dekapan sambil mengelus pelan kepala Mayang hingga wanita itu terlelap.
***
Azmir menutup pintu kamar Mayang perlahan-lahan. Ia mencari keberadaan Mawar atau nenek untuk bergantian menjaga Mayang. Takutnya jiwa yang lain itu kembali menguasai raga Mayang dan menyelakai banyak orang.
"Eh, Bapak. Darimana aja? Baru pulang?" tanya Azmir berbasa-basi. Kadir menaruh tas dan duduk di sofa.
"Iya, banyak banget kerjaan. Mayang udah tidur?"
"Iya, Pak. Baru aja. Besok kami mau ke rumah Mbah Rondo lagi. Aku khawatir dia kenapa-kenapa. Kayak tadi itu," jawab Azmir.
"Emang kenapa tadi?" Kadir yang penasaran langsung memasang mimik wajah terkejut.
"Tadi Mayang kerasukan lagi. Dia jadi aneh, Pak," jawab Azmir.
"Oh ... dia jadi kasar dan lebih berani, 'kan?" Azmir terdiam sesaat, ia cukup dikejutkan dengan perkataan Kadir. Mengapa Kadir bisa tahu hal ini?
"Lho ... kok, Bapak tau?"
"Hah? Oh ... em ... hahaha, gini. May pernah kerasukan juga waktu itu. Hampir aja nyakitin bapak. Tapi kalau dia begitu cantik juga, ya. Bapak suka," jawabnya sambil terkekeh. Azmir mengepal tangannya geram. Apakah ini sebuah candaan? Bisa-bisanya berkata seperti itu padahal Mayang di sana sedang berusaha sembuh. Azmir memilih pergi tanpa sepatah kata pun. Ia tak ingin mencari masalah karena tahu Kadir adalah pria yang egois dan pemarah.
Sepanjang perjalanan pulang, Azmir tak berhenti memikirkan hal itu. Apa kejadian ini ada kaitannya dengan Kadir? Kata-kata dan sikapnya tadi sangat aneh menurutnya, bagai orangtua tak punya hati.
Ia berniat membeli segelas kopi hangat untuk menenangkan pikiran. Ketika keluar dari mobil, tak sengaja netranya menangkap sosok kakek tua yang berjalan sambil memegang sebuah tongkat. Kakek itu meminta makanan dan uang kepada pengunjung yang datang ke kafe. Banyak yang terbuka hatinya memberi beberapa lembar uang ribuan atau membelikan si kakek makanan. Namun, ada juga yang cuek dan pura-pura tak melihat.
Azmir berjalan menghampiri sang kakek, berniat membagikan sebagian rezekinya. Ketika dihampiri, mata kakek itu memutih. Pantas saja menggunakan tongkat, dia buta. Azmir memegang telapak tangan kakek itu dan memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Ma-makasih, Cu. Semoga semakin dilimpahkan rezekinya oleh Allah Yang Maha Kuasa," kata sang kakek.
"Iya, sama-sama, Kek," ucap Azmir santun. Ia tersenyum bahagia telah menolong kakek tua ini. Sang kakek seperti merogoh sesuatu di kantongnya.
"Ini, Cu. Pakai ini supaya kamu dilindungi oleh roh dan mata jahat," kata kakek itu sembari menyerahkan gelang batu berwarna hijau cerah. Azmir menerimanya dengan ragu-ragu. Dipandangnya gelang unik sekaligus mengundang rasa penasarannya itu.
"Terima kasih, Kek," ucap Azmir. Kakek itu tersenyum dan Azmir kembali menatapi gelang itu. Ketika ia mendongak, sang kakek sudah hilang dari pandangan. Ia terkejut dan terus mencari di mana keberadaan kakek tua itu.
"Aneh. Udah tua tapi jalannya cepat banget," gumam Azmir keheranan. Sekujur tubuhnya merinding, jangan-jangan yang ia temui tadi bukanlah manusia.
***
"Aww ...," keluh Kadir sambil meniup luka di lengannya. Ia sempat terjatuh karena jalanan lumayan becek.
"Kenapa, Pak?" Kadir tersenyum ketika melihat putrinya berdiri di depan sana. Mayang terlihat cantik dengan memakai baju tidur pemberian Azmir beberapa waktu yang lalu.
"Tadi jatoh pas pulang, ada obat nggak di dapur?" tanya Kadir.
"Ada, Pak. Pakai bekas May waktu luka dulu itu aja. Masih banyak kok. Bentar, ya May ambilkan," jawab Mayang lalu bangkit dan berjalan menuju dapur.
"Ini, Pak," ucap Mayang. Kadir menatap wajah putrinya itu sekejap. Ia bangkit dan menutup pintu, lalu menarik tangan Mayang untuk duduk di atas ranjang.
Mayang sedikit heran, mengapa pintu harus ditutup? Jantungnya berdegup kencang, ia mulai memikirkan hal buruk. Niat hati ingin berbakti pada orangtua, jangan sampai mengalami nasib sial malam ini.
"Kok ditutup pintunya, Pak?" tanya Mayang sambil mengoleskan obat.
"Emang kenapa? Suka-suka bapak dong," jawab Kadir sedikit mencurigakan. Setelah mengoles luka, May menggeser posisi duduk agar tak terlalu dekat dengan bapaknya. Ia benar-benar takut sekarang.
Kepala Mayang tiba-tiba terasa pusing. Ia tak bisa bergerak dan berbicara. Seluruh tubuhnya kaku dan hanya bisa mendengar sayup-sayup suara bapaknya memanggil manja. Ketika Kadir mendekat, ia tak bisa mengelak. Justru sebaliknya, Mayang seakan-akan membalas perlakuan bapaknya itu.
"Aku rindu," kata sosok yang kini sedang menguasai raga Mayang. Kadir tersenyum bahagia dan mengelus pipi putrinya.
"Maria, kamu cantik banget pakai baju ini," kata Kadir. Wanita di hadapannya itu menarik karet rambut dan mendekatkan diri. Menghapus jarak di antara mereka, sangat dekat seperti pasangan yang dimabuk cinta.
"Anak ini masih lama lahir, aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya," kata Maria—sosok lain di tubuh Mayang—sembari mengelus perutnya.
"Iya, aku juga. Sabar, yah. Sebentar lagi."
Mereka berdua bergelayut manja. Sosok di tubuh Mayang itu terus menggoda Kadir. Tak ada perlawanan, pria bertubuh besar itu justru sangat menikmatinya. Ya, Kadir jatuh cinta pada Maria, bukan Mayang, putrinya sendiri. Ia menyukai sisi lain dari Mayang yang berani dan lebih menghanyutkan.
"Pak, udah dikasih o—"
"BAPAK!"
Pupil wanita itu membesar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Tiba-tiba Mawar membuka pintu dan melihat apa yang seharusnya tak dilihat. Hatinya sakit, perih, bagai mimpi. Suami yang sangat dicintainya tega menduakan hati, bahkan dengan anak mereka sendiri. Mawar terjatuh, ia tak mampu berkata-kata lagi. Sedangkan Kadir di sana buru-buru melepas pelukan Maria.
"Aku-aku bisa jelasin ke kamu," kata Kadir. Maria tersenyum sinis.
"Jadi ... jadi kamu yang menghamili Mayang, Mas?" Mawar lumpuh. Ia tak mampu menahan luapan air mata.
"Aku bisa jelasin, kamu jangan salah paham dulu!" Kadir bangkit dan mendekati Mawar. Namun, wanita itu memilih menepis tangan suaminya; ia murka. Sedangkan Maria di sana menatapi ujung kukunya. Ia tak peduli dengan keadaan yang terjadi sekarang.
"Apa yang harus dijelaskan lagi, hah? Aku udah lihat semuanya, apa lagi sekarang?"
"Dan kamu, Mayang! Dia itu bapakmu! Kenapa kamu tega nyakitin ibu kayak gini, hah? Bangkit dari situ, keluar!" perintah Mawar.
"Apa? Permisi? Siapa yang kamu panggil Mayang?"
"Dasar anak nggak tau diri! Keluar!"
"Mawar, kujelasin dulu! Dia itu bukan Mayang," kata Kadir bersikeras. Mawar yang menganggap ini lelucon pun terkekeh.
"Terus siapa? Kembarannya? Jelas-jelas aku lihat kalian berdua-duaan. Pintu pake ditutup segala. Maksudnya apa?" Emosi Mawar meledak, ia menatap tajam ke arah Maria.
Maria tak suka ditatap seperti itu. Ia bangkit dari kasur dan menghampiri Mawar. Tatapan tajam dibalas sengit, Maria mencengkram pergelangan tangan Mawar hingga wanita itu bangkit.
"Lepasin! Anak durhaka!" umpat Mawar tak percaya. Mata Maria memerah, bibirnya terus menyunggingkan senyum sinis. Kadir hanya terdiam di sana, ia tak tahu harus berbuat apa.
"Siapa yang kau panggil Mayang? Jawab!" bentak Maria. Mawar terkejut tapi berusaha tegas pada anaknya.
"Kamu-kamu Mayang! Anakku!" balas Mawar tak kalah kerasnya. Maria tertawa kencang.
"Anakmu? Sebentar lagi dia akan mati!" ancam Maria.
"Kau lupa perjanjian 18 tahun yang lalu? Aku kembali untuk menagih janji itu," lanjutnya. Mawar tak tahu harus menjawab apa. Janji yang mana?
"Apa? Janji? Kamu siapa, sih?"
"Tanya si Tua Bangka itu." Maria tersenyum lagi, lalu beberapa saat kemudian, tubuh itu terjatuh.
***
BERSAMBUNG ..

KISAH SERAM 📛 MELAYU BERSIRI
TAJUK CERITA : LUKA MAYANG
KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH
HASIL KARYA : ZYLAN AGATHA
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/luka-mayang-kisah-wanita-yang-dibunuh.html

PART 9
Pagi harinya, semua berjalan seperti biasa. Mereka bersikap seolah tak terjadi apa-apa, termasuk Mawar. Sambil mengerjakan pekerjaan rumah, ia tak henti-hentinya memikirkan kejadian semalam. Meskipun harus menyembunyikan hal ini dari ibunya.
"Jangan melamun nanti kena pisau itu jarinya," kata nenek. Lamunan Mawar buyar dan langsung menoleh.
"I-iya, Bu."
"Semalem nginap di rumah Bik Rosita emang terasa ada yang janggal. Auranya gelap dan suram. Itu anaknya yang masih bayi, si Alitha, suka nangis tengah malem," ucap nenek menceritakan perihal tadi malam. Ya, pukul tujuh lewat, nenek meminta izin untuk menginap di rumah saudaranya. Tak jauh dari sini. Hanya berjalan kaki dua puluh menit. Bik Rosita mengalami kejanggalan aneh di rumah yang baru ia tempati tiga bulan itu.
"Oh, terus gimana jadinya, Bu?" tanya Mawar antusias.
"Ya, kita harus panggil orang pintar buat ngusir roh jahat di sana. Kasihan Alitha takut diapa-apain sama jinnya nanti," jelas nenek. Mawar manggut-manggut dan kembali melanjutkan kegiatannya. Dalam hati ia merasa tidak enak. Menerima kenyataan bahwa anaknya dihamili suaminya sendiri.
Namun, di balik itu semua, ia berusaha berpikir positif. Mengenai Maria, sosok lain yang entah darimana datang dan menguasai raga anaknya itu.
"Masak apa, Sayang?" tanya Kadir tiba-tiba muncul dari belakang. Mawar yang mendengar hal itu bukannya senang malah merasa jijik. Ia menjauh dari suaminya itu.
"Nggak usah deket-deket aku," kata Mawar sambil menahan tetesan air matanya jatuh. Kadir mendengkus pelan, ia tahu mengapa sikap istrinya menjadi seperti ini. Tentu saja perihal semalam. Mawar belum mengerti apa yang telah terjadi.
"Siapa Maria? Sejak kapan kamu berhubungan sama dia?" tanya Mawar sambil menatap tajam ke arah suaminya. Kadir malas berdebat pagi ini, ia memilih untuk pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meninggalkan Mawar yang terdiam kebingungan di sana.
Wanita mana yang akan terima jika suaminya tega menghamili anaknya sendiri? Sakit ... hatinya terkejut. Hanya air mata yang bisa menenangkannya saat ini.
***
"Mayang! Ibu mau bicara sama kamu!" Mawar langsung mendobrak pintu dan menghampiri Mayang yang masih terbaring lemah di tempat tidur.
"Ap-apa, Bu?" tanya Mayang kaget. Ia berusaha bangun dan menerka-nerka apa yang membuat ibunya begitu murka.
Tanpa banyak cakap, Mawar menarik paksa tangan anaknya cukup kasar. Wanita yang belum sepenuhnya pulih itu hanya bisa pasrah. Ia menangis, merintih.
"Kamu tega, ya. Bisa-bisanya berhubungan sama bapakmu sendiri! Ibu nggak ada ajarkan kayak gitu, May!" bentak Mawar begitu emosi. Mayang terkejut bukan main. Ternyata ibunya sudah tahu rahasia besar ini. Susah payah ia menjaga agar ibunya tak tahu siapa ayah dari anak di rahimnya. Namun, entah mengapa, langit sedang menguji kesabaran wanita itu lagi.
Lelah ia berdo'a meminta jalan keluar; berharap Tuhan berbelas kasih padanya. Namun, semua do'a yang ia panjatkan bagai sampai ke langit, lalu kembali lagi ke bumi. Ia sudah mempersiapkan diri menerima perlakuan apa yang akan dihujamkan kepadanya nanti.
"Bu, sumpah demi Allah! May nggak tahu apa-apa soal ini. Semuanya terjadi begitu aja. May bahkan nggak tahu kalau sudah hamil empat bulan," jelas Mayang berderai air mata. Wajahnya semakin pucat, ia takut dibenci ibunya sendiri.
"Ibu ... percaya sama Mayang. Semua didikan ibu waktu kecil Mayang ingat sampai sekarang," lanjutnya sambil bertekuk lutut. Ia memohon dan mengiba. Sungguh, Mayang bagai kambing hitam. Disalahkan padahal ia sendiri tak tahu apa-apa.
"Nak, kalau bukan kamu, lantas siapa? Bisa kamu jelaskan siapa Maria?" Mayang berhenti menangis. Dahinya mengerut, tak paham siapa yang dimaksud ibunya itu. Ia bangkit sambil terus menatap mata Mawar.
"Maria?"
"Iya. Sosok yang bersemayam di tubuhmu. Namanya Maria."
"Ta-tapi ... kok ibu tau?"
Mawar menjelaskan kejadian tadi malam. Tentu saja ketika itu Mayang tak tahu apa-apa. Seingatnya setelah memberikan obat untuk bapaknya, ia tak mengingat hal lain lagi. Ketika sadar, ia sudah berada di tempat tidur. Lemas dan kepalanya sangat nyeri. Emosi Mawar sedikit mereda ketika tahu anaknya tak menyadari apa-apa ketika itu. Kembali, Mayang dibuat kebingungan. Maria? Siapa dia?
Semuanya mulai menemukan titik terang. Mayang memang tak merasa pernah melakukan hal sekeji itu dengan bapaknya sendiri. Dulu, ia adalah gadis yang terkenal pendiam dan santun. Dididik dengan baik oleh ibunya sejak kecil. Sangat mengejutkan memang jika ia sampai melakukan hubungan sedarah dengan bapaknya. Apa kata orang di luar sana nanti?
Tentu saja, Mayang bukan wanita serendah itu. Ia bahkan membenci anak yang ada di dalam kandungannya kini. Sekarang ia tahu mengapa ketika hal itu terjadi, ia tak merasakan apa-apa. Semua terjadi begitu saja, tanpa ada gejala atau praduga.
Maria ... gadis misterius yang mendiami tubuh Mayang. Sejak kapan, apa tujuannya, semua itu masih menjadi rahasia.
Perlahan akan terkuak, meski Mayang harus menahan rasa sakit bertubi-tubi. Ia lelah terus menduga-duga apa yang telah terjadi.
Drrrt ....
Mayang mengusap layar benda pipih itu. Terpampang nama yang akan menemani sisa hidupnya kelak.
[Aku antar ke Mbah sekarang. Kamu siap-siap, keburu sore.]
"Hu'um, Mas."
"Bu, May izin keluar sebentar. Diajak Mas Azmir," ucapnya meminta izin. Mawar mengangguk pelan lalu pergi keluar. Ia tak ingin ibunya tahu bahwa Azmir akan mengajaknya ke Mbah Rondo untuk diperiksa lagi. Bunga melati waktu itu sudah habis ia makan, tapi tidak ada reaksi apa pun. Malah jin di dalam tubuhnya semakin memberontak.
***
"Mbah, masih ingat kami? Pasangan yang waktu itu konsul masalah jin. Tunangan saya sudah memakan bunga melati pemberian Mbah waktu itu. Tapi belum ada tanda-tanda akan membaik. Apakah dia bisa sembuh, Mbah?" tanya Azmir. Mbah Rondo hanya mengangguk, tak menatap dua orang yang duduk berhadapan dengannya. Sibuk membersihkan keris pusaka.
"Mbah?" panggil Mayang karena tak kunjung mendapat respon. Azmir mencubit pelan pinggang Mayang. "Jangan-jangan selain bisu dia juga mulai tuli?"
"Ish, Mas! Nggak boleh ngomong kayak gitu," kata Mayang sambil menahan senyum.
"Atau jin di dalam tubuh Mayang itu sangat kuat, Mbah?" Azmir berusaha fokus, ambisinya agar Mayang cepat sembuh sangatlah besar. Ia tak ingin pernikahannya nanti hancur dan tak sesuai harapan.
Mbah Rondo mengangguk, lalu memberikan bunga melati lagi.
"Dimakan?" tanya Mayang ragu. Mbah menggeleng, ia tak mengisyaratkan apa-apa lagi setelah itu. Mayang jadi bingung mau diapakan bunga ini?
"Ah ... iya, mungkin aja dimakan, Sayang. Kemarin 'kan begitu? Siapa tahu Mbah lagi males, hehe," ucap Azmir. "Ya, udah terima aja. Habis itu kita pulang."
Mayang menerima bunga itu dan bangkit. Azmir menaruh beberapa lembar uang kertas ke dalam kantung si Mbah. Ia tahu Mbah tidak mau menerima imbalan dalam bentuk apa pun. Namun, sebagai bentuk terima kasih, apa salahnya memberi sedikit rezeki? Lagipula, kakek tua itu hidup sebatang kara. Istrinya entah ke mana dan anak-anaknya pergi merantau jauh di luar sana.
Ketika berjalan menuju pintu luar, Azmir dikejutkan dengan bayangan seseorang di sana. Ia melangkah perlahan-lahan, memastikan tak salah lihat.
"Eh, Ibu. Astaga, bikin kaget aja, hehe," ucap Azmir ketika berpapasan dengan Mawar.
"Lho, Ibu ngapain ke sini sama nenek?" tanya Mayang penasaran.
"Temenin nenek kamu mau minta bantuan sama Mbah soal Bik Rosita. Rumahnya berhantu," jawab Mawar.
"Oooh ... ya, udah, Bu, May sama Mas Azmir pulang duluan."
***
Di perjalanan pulang, Mayang tak henti-hentinya memikirkan sesuatu. Misteri ini memang perlahan terkuak, tapi rasa-rasanya tak menemukan ujung. Selalu ada misteri lain yang membuat pikirannya kalut.
"Oh, iya, kemarin aku ketemu kakek-kakek pas mau beli kopi. Dia ngasih gelang ini," ucap Azmir sembari memberikan gelang hijau tersebut. "Tiba-tiba aja si kakek langsung hilang pas aku dongak. Kalau dipikir-pikir gak mungkin kakek tua cepet banget jalannya."
"Gelangnya cantik, Mas." Mayang tersenyum lebar. Ia memakai gelang itu di tangan kanannya. Antik memang.
"Di mana, ya si kakek dapat gelang sebagus ini? Coba lihat, Mas. Cantik, 'kan?" Azmir juga ikut tersenyum. Akhirnya setelah beberapa hari terus bersedih, ia bisa melihat senyum manis itu lagi.
"Ya, udah kamu ambil aja."
Namun ....
"M-Mas ... kepalaku sa-sakit ...," keluh Mayang tiba-tiba. Azmir langsung meminggirkan mobilnya dan memeriksa kondisi Mayang. Ia terkejut karena wajah Mayang begitu pucat, keringat dingin bercucuran, dan tangan kakinya gemetar.
"Kok tiba-tiba, sih? Ke rumah sakit aja, ya?"
Mayang terbatuk-batuk, Azmir membukakan pintu dan membopong wanita itu keluar. Mungkin saja ia masuk angin karena di luar memang agak dingin.
"Aaakh ...." Mayang menjerit kesakitan sambil memegang lehernya. Azmir yang panik langsung menelepon Mawar.
"Maaas ... sakit!"
Mayang terbaring di atas rerumputan. Jalanan sangat sepi, tidak ada yang bisa dimintai tolong.
"Haaakh!"
Wanita itu memuntahkan cairan merah yang kental. Azmir langsung menghampirinya. Ia membangunkan Mayang dan memijat tengkuknya. Mayang terlihat sangat kesakitan, bulir-bulir air mata terus mengalir dan jatuh ke atas tanah.
"Heergh!" Satu jeritan lagi. Mayang memuntahkan darah dan tiga buah jarum di atas telapak tangannya. Azmir terbelalak, ini adalah tanda-tanda jika sedang dikirim ilmu hitam. Adakah seseorang yang dendam dan mengirim jin itu untuk mengusik kehidupan Mayang?
Tunggu, singkirkan dugaan itu dulu. Sekarang, Mayang pingsan dan kondisinya memprihatinkan.
***
BERSAMBUNG ..

KISAH SERAM 📛 MELAYU BERSIRI
TAJUK CERITA : LUKA MAYANG
KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH
HASIL KARYA : ZYLAN AGATHA
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/luka-mayang-kisah-wanita-yang-dibunuh.html

PART 10
"Lho ... Mayang kenapa?" Mawar terkejut mendapati anaknya terbaring lemah. Ia tak sanggup melihat darah yang menetes dari mulut wanita malang itu.
"Ng-nggak tahu, Bu tadi tiba-tiba aja langsung kesakitan gini pas di mobil. Jadi, saya bawa keluar, muntah darah sama jarum," ucap Azmir. Mawar menyelimuti tubuh anaknya, lalu memeriksa suhu tubuh. Normal. Tidak ada tanda-tanda terkena penyakit atau bagaimana.
Ia memegang gelang yang dipakai Mayang ketika itu. Ekspresinya mendadak berubah. Seakan tahu penyebab mengapa anaknya menjadi seperti ini.
"Dapat darimana gelang ini? Perasaan nggak ada sebelumnya," tanya Mawar.
"Saya yang dapat, Bu. Dikasih kakek tua waktu mampir beli kopi. Karena May suka, jadi saya kasih aja," jawab Azmir.
"Gelangnya aneh," ucap Mawar sambil terus menatapi gelang itu.
"Oh, iya, Bu. Tadi Mbah ngasih bunga melati lagi ke May. Tapi nggak tau diapakan. Mungkin disuruh makan lagi," ujar Azmir sembari menunjukkan bunga melati itu. Nenek yang sedari tadi hanya diam, menghampiri Azmir dan mengambil satu kelopak melati.
"Ini bukan melati biasa. Udah dibacakan mantra. Suruh May mandi pakai bunga ini aja nanti," kata nenek memberi saran. Azmir menyanggupi dan izin pamit keluar.
***
Setelah sadar, May merasakan sakit luar biasa di dadanya. Diselingi tangisan, ia memikirkan garis takdir yang akan dibencinya seumur hidup. "Mengapa harus aku?"
"Aku masuk, ya?" ujar seseorang di luar sana. Tanpa menunggu jawaban dari Mayang, sosok itu membuka pintu dan masuk.
"Udah baikan? Yuk, makan dulu," ajak Azmir sambil membantu Mayang bangun.
Mayang masih terisak, entah rasa sakit apa yang mendominasi hatinya saat ini. Batuk darah itu cukup mengejutkan, ditambah keluarnya tiga buah jarum berukuran sedang. Pertanda apakah ini? Adakah sesuatu yang lagi-lagi akan menjadi misteri?
"Mas ... aku capek. Sampai kapan kayak gini terus? Mending aku mati aja," kata Mayang. Azmir langsung menunjukkan ekspresi geram.
"Ya, terus? Kamu ninggalin aku gitu? Kita mau nikah bentar lagi. Nggak usah ngomong macem-macem." Ia bangkit dan berbalik badan. Berusaha menahan gejolak emosi. Ia tak suka orang yang mudah putus asa dan memilih mati. Baginya itu adalah jalan keluar yang sesat dan bodoh.
Mayang semakin menangis. Keinginannya untuk pergi semakin menjadi-jadi. Semua orang bagai mengutuknya saat ini. Juga, janin yang ada di dalam kandungannya, haruskah dipertahankan? Ia bahkan merasa jijik jika harus merawat bayi ini nanti.
Ia ingin membenci tapi takut hal buruk berbalik menimpa dirinya.
Azmir berbalik dan menghampiri. Ditariknya tubuh yang semakin kurus itu. Memeluknya dalam dekapan dan hangatnya kasih sayang. Ia tak marah; sungguh. Hanya tak suka jika orang yang ia cintai berbicara tentang mati.
"Maaf, aku harus tegas kali ini ke kamu. Aku nggak suka kamu ngomong kayak gitu. Pantangan, kita mau nikah bentar lagi. Hari yang kamu nantikan selama beberapa tahun. Kita akan bahagia, Sayang, tapi belum saatnya," kata Azmir membujuk Mayang. Berharap wanita itu tidak membatin karena kata-katanya tadi.
"Udah jangan nangis. Makan dulu, ya?"
***
"Nenek ...," panggil Mayang. Ia mengetuk pintu kamar dengan pelan.
"Nggak dikunci."
Mayang kini berdiri di hadapan neneknya yang sedang menjahit pakaian. Ia menatap penuh iba, berharap kali ini menemukan titik terang. Namun, melihat sifat neneknya yang cenderung keras kepala dan suka memendam, sepertinya butuh usaha yang lebih keras lagi. Ia yakin bahwa neneknya tahu akan hal ini.
"Apa May kena santet? Dari siapa?" tanya May. Neneknya mendongak, langsung menatapnya tajam.
"Muntah darah keluar jarum bukan berarti kena santet. Coba periksa ke dokter, siapa tahu ada penyakit lain," jawab neneknya.
"Sudah, Nek. Sehabis makan tadi Azmir menemaniku periksa. Tapi kata dokter nggak ada apa-apa. Normal," ucap Mayang bersikeras.
Wanita tua itu mendengkus pelan. "Nenek nggak lihat ada ciri-ciri kena santet. Sana keluar, nenek mau istirahat."
Mayang ... kali ini ia kembali gagal menemukan jawaban. Teka-teki yang Tuhan susun untuknya begitu rumit. Pasrah dengan keadaan, apa yang menjadi alasan Maria mendiami tubuhnya ini? Ia risih harus berbagi tubuh dengan jiwa lain. Ia tak suka jika selalu merasa kesadarannya terbagi dua. Ia tak suka dan benci jika Maria menyakiti dirinya atau orang lain.
Ia benci itu semua. Harusnya Maria itu mati dan tidak pernah ada.
"Mas ... apa Maria itu nggak mau keluar dari tubuhku?" tanya May ketika dua insan itu duduk di kursi taman.
Azmir menoleh, menatapnya sekilas, lalu melempar pandang ke rerumputan di bawah sana. "Kata ibumu, iya. Dia nggak mau keluar. Kecuali kamu juga mati," jawabnya. May terdiam dan menunduk. Ia tak menyangka akan menghadapi masalah sebesar ini. Maria egois, tak mau mengalah. Jika ingin Maria pergi, Mayang juga harus mati.
Itu sangat kejam.
"May, kita harus berjuang lagi untuk mencari titik terang. Aku nggak mau kita menikah tapi masalah ini belum selesai," ucap Azmir. Mayang masih betah dengan posisinya tadi; menunduk dan diam tanpa berucap sepatah kata pun.
"Oh, iya. Bunga melati kemarin gimana?"
May menoleh, ia berusaha mengingat-ingat.
"Masih di dalam kamar, dalam vas bunga," jawabnya.
"Kata ibu kemarin kamu mandi ditaburi bunga itu."
"Ehm, oke. Nanti pulang aku mandi."
***
Perut May mulai membuncit. Usia kehamilan memang menginjak lima bulan. Ia selalu menggunakan baju lebar agar tidak kelihatan. Sekarang, ia jarang keluar rumah. Takut jika ada tetangga yang curiga dan menebar fitnah yang macam-macam.
"Iya kalau mereka percaya apa yang sebenarnya terjadi. Kalau nggak? Bagi mereka memiliki dua jiwa satu raga itu hanya ada di drama-drama. Mana mungkin ada di dunia nyata," gumamnya dalam hati.
'Aku kembali ....'
May terdiam, tapi bola matanya liar mencari sumber suara.
'Aku kembali dan menagih janji itu.'
Janji?
"Siapa kamu? Keluar! Jangan jadi pengecut!" bentak Mayang sambil terus mundur hingga ke dinding. Sungguh, ia takut. Hawa di kamarnya berubah drastis. Dingin dan tak biasa. Tirai tersibak kasar dengan sendirinya. Lampu remang-remang itu juga berkedip sendiri. Seperti ada yang sengaja memainkannya.
'Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku.'
May menangis, ia menutup telinga dengan kedua tangannya. Ia benci mendengar suara ini.
"Pergi! Jangan ganggu aku, maumu apa?"
'Aku ingin janji yang dulu mereka ucapkan!'
Suara itu membentak kasar. May terkejut hingga napasnya terasa sesak. Ia berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Wajah wanita itu memerah, sesekali tangannya terlihat gemetar.
Ia ketakutan; sangat.
"Ja-janji apa? Apa urusannya denganku?"
'Janji bahwa tahun ini aku yang akan mengendalikan sepenuhnya atas ragamu.'
Deg ...!
Berarti, May akan mati dan Maria yang merebut sepenuhnya raga ini? Tidak, petaka besar jika sampai itu terjadi! Mayang tidak boleh menyerahkan raganya begitu saja. Iblis adalah iblis, roh manusia adalah manusia.
May berusaha bangkit, melawan ketakutannya. Ia mencari Al-Quran atau setidaknya lembaran kertas berisi firman Allah.
"Ini! Kau tak takut dengan Tuhan? Kau tak takut dengan siapa yang menciptakanmu dulu, hah!" ancamnya begitu geram. Tiba-tiba keberanian luar biasa membuatnya kuat. Ya, ia sudah lelah dengan permainan ini. Waktunya membongkar semuanya hingga tak ada lagi yang menjadi teka-teki.
Sosok itu tertawa kencang. Bak menertawakan perkataan Mayang barusan.
'Aku tidak diciptakan oleh siapa pun! Aku ini terbentuk karena suatu kejadian di masa lalu. Kau tahu itu?'
May menggeleng, lalu dengan cepat ia berlari keluar. Tentu saja melewati ruang tamu tempat cermin misterius itu diletakkan. Kadir belum menaruhnya di kamar Mayang, karena setelah kejadian besar malam itu, ia menginap di rumah teman kerjanya. Benar sekali, ia diusir Mawar.
Mayang memperlambat jalan ketika akan melewati cermin itu dan ....
Sosok yang mirip dengannya tersenyum lebar—hingga tepat di bawah mata.
***
BERSAMBUNG ..


KISAH SERAM 📛 MELAYU BERSIRI
TAJUK CERITA : LUKA MAYANG
KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH
HASIL KARYA : ZYLAN AGATHA
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/luka-mayang-kisah-wanita-yang-dibunuh.html

PART 11
Gelang ini ... gelang yang dapat membantu Mayang menemukan titik terang. Bukan tanpa alasan, sejak memakai gelang itu, May jarang kerasukan. Ia jadi penasaran dengan siapa yang memberi gelang ini ke Azmir hingga efeknya begitu luar biasa.
"Mas, em ... Mas masih inget nggak sama muka kakek yang ngasih gelang ini?" tanya Mayang.
Azmir mengangkat kedua bahu; lupa sepertinya. "Duh ... gimana, ya? Agak samar, nih mukanya, Dek. Emang kenapa?"
"Begini, Mas. Semalam aku mimpi aneh, seram juga. Berkaitan dengan gelang dari Mas," jawab Mayang.
Azmir memasang wajah serius, penasaran.
"Mimpi apa?"
***
May bersiap-siap untuk tidur. Hati dan pikirannya begitu lelah. Beberapa hari belakangan jam tidurnya sangat minim. Ia terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting.
Tak butuh waktu lama hingga ia benar-benar terlelap. Gelang itu pembawa energi positif untuknya. May lebih tenang dan gangguan demi gangguan itu perlahan hilang.
Namun, mimpinya begitu menyeramkan. Awalnya, ia bermimpi melangsungkan pernikahan syahdu bersama Azmir. May mencium tangan suaminya dengan takzim. Ia bahagia, tak lupa terus mengucapkan rasa syukur pada Tuhan. Anehnya, ketika itu May tidak dalam kondisi mengandung. Benar-benar seorang gadis yang dinikahi perjaka kaya.
Adegan demi adegan berselang, tibalah ia di kamar pengantin yang dihias khusus untuk mereka berdua. Cantik, istimewa. Taburan bunga mawar merah membuat kedua insan itu semakin dimabuk asmara. Ketika hendak menyentuh Mayang, Azmir terkejut dengan keberadaan satu kelopak bunga melati di atas kasurnya.
"Mungkin tadi nggak sengaja jatuh di sini pas dihias, Mas," ucap Mayang. Azmir manggut-manggut, lalu kembali menatap istrinya itu.
Mayang bergelayut manja, menggoda suaminya. Siapa yang akan marah? Mereka sudah sah, tak perlu lagi menjaga jarak.
Namun, berselang beberapa lama, adegan tak menyenangkan muncul. May tiba-tiba berada di ruangan yang gelap, tanpa ada penerangan sedikit pun. Ketakutan itu berlanjut tatkala melihat sinar putih menyilaukan mata dari samping kanan tempat ia berpijak. Tempat apa ini? Mengapa begitu asing?
Sekeliling May hanya ada dan meja. Cahaya putih itu menghampiri, semakin mendekat. May ingin mundur tapi tubuhnya kaku; terasa dikunci. Perlahan, sinar misterius itu membentuk sosok manusia.
"Assalamu'alaikum, Nak." Sosok bercahaya itu memberi salam. Mayang gelagapan, ia semakin takut tapi juga penasaran.
"Wa-wa'alaikumsalam, Kek," jawabnya pelan. Kakek itu mendekati, lalu memegang tangan Mayang. Terasa begitu dingin.
"Takdir yang buruk," ucap kakek itu. Mayang terkejut sekaligus bersedih.
"Buruk?"
"Ya, sangat buruk."
"Kau masih memakai gelang pemberianku itu?" tanyanya. Mayang menatap gelang hijau yang diberikan oleh Azmir waktu itu. Masih melingkar manis di pergelangan tangannya.
Wanita itu mengangguk. "Masih saya pakai, Kek."
"Bagus, sementara itulah yang menjadi pelindungmu."
"Pelindung apa, Kek?" tanya Mayang penasaran. Namun, kakek itu buru-buru menghilang dari pandangan. Setelah itu, Mayang tak tahu bermimpi apa lagi. Intinya ia terbangun dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Seperti orang sakit keras, tubuh Mayang terasa lumpuh tak bisa digerakkan.
Berselang beberapa jam, akhirnya ia bisa menggerakkan tangannya. Segera menelepon Azmir untuk datang ke rumah.
***
"Bisa jadi kakek yang kemarin itu juga masuk ke mimpimu. Dugaanku kemarin kalau dia itu bukan manusia semakin kuat," ucap Azmir setelah mendengar cerita Mayang.
"Hu'um, Mas. Aku kaget aja dia bilang nasibku buruk," ucap Mayang menunduk. Azmir menggenggam tangan kanan kekasihnya itu.
"Nggak usah dipikirin, anggap aja bunga tidur."
Malam harinya, entah apa yang terjadi pada Dahlia—nenek Mayang. Ia gelisah dalam tidurnya, seakan-akan mengalami mimpi buruk menyeramkan. Ketika terbangun, ia langsung bangkit dan keluar kamar.
Ia menuju kamar Mayang, tapi wanita itu sudah lama tertidur. Dahlia meliriknya dari balik celah pintu yang sedikit terbuka.
***
"Kamu jarang kerasukan lagi?"
"Hu'um. Aku pikir bakal dapat bencana karena waktu awal pakai gelang ini—"
"Lho, Mas! Gelang aku ke mana?" Mayang panik setengah mati. Bisa-bisanya ia tak menyadari bahwa gelang itu tidak lagi ia kenakan.
"Nah loh. Kan sama kamu, Dek. Kok tanya Mas, sih. Siapa tahu jatuh di kamar mandi," kata Azmir.
"Nggak, Mas! May nggak pernah lepas gelang itu bahkan ke kamar mandi."
"Maaas ... kalau nggak ada gelang itu, aku kerasukan lagi nantinya," lanjutnya sembari menatap penuh iba. Ia berusaha mengingat apa yang dilakukannya semalam. Tidak ada yang aneh, semua normal. Ia merasa tak pernah melepas gelang itu.
"Ya, sudah nanti sekalian antar kamu pulang, aku di rumahmu dulu bantu cari. Udah jangan cemas."
Gelang itu membawa energi yang positif bagi Mayang. Meskipun awal memakainya ia langsung muntah darah. Sejak saat itulah, Mayang jarang kerasukan. Sakit kepala yang hebat, amarah yang tidak bisa dikendalikan, mendadak lenyap. Ia merasa bahwa gelang ini bukan sembarang perhiasan. Dilihat dari ukiran dan warnanya, ini dibuat khusus untuk seseorang.
Kini, entah berada di mana gelang itu. Mayang mulai sering melamun. Rasa malas kembali menyerangnya tatkala ingin beribadah. Juga amarahnya mulai tak bisa dikendalikan. Azmir khawatir dan membantu Mayang mencari gelang itu di semua sisi.
Nihil. Tidak ada.
"Gimana ini, Mas? Ada aja cobaan buatku. Baru aja semangat sebentar lagi mau sembuh," ucap Mayang pasrah. Ia terduduk dan meringkuk. Isakannya terdengar pilu.
"Sabar, Dek. Mas tahu ini berat buat kamu. Tapi Mas selalu ada kok. Kita sama-sama lalui ini."
"Tapi sampai kapan, Mas!" Mayang bangkit sambil mengepal geram. "Sampai kapan iblis ini ada di tubuhku? Ngomong harus bayar janji, janji apa? Aku nggak tahu apa-apa tapi serasa jadi kambing hitam! Aku harus mati supaya dia senang, begitukah? Jawab, Mas!"
Azmir terdiam, wanita di hadapannya benar-benar marah. Rupanya Mayang sudah terlalu lelah dan muak. Ia tertekan batin dengan teka-teki ini. Sampai kapan?
"Nenek, Ibu, Bapak, semuanya setan! Nggak ada yang peduli! Kenapa aku dilahirkan di keluarga iblis ini, hah? Mana kasih sayang yang dulu kudapatkan!" Emosinya semakin tak terkendali. Napas tersengal, juga keringat mulai bercucuran.
Azmir meremas kedua bahu Mayang, mencegahnya melakukan hal nekat. Wanita itu terus memberontak, tapi tenaga calon suaminya sangat besar.
"Diam!" bentak Azmir akhirnya.
"Siapa bilang nggak ada yang peduli? Kamu anggap aku apa di sini?" Azmir menggoncang-goncangkan tubuh Mayang. Berusaha menyadarkan wanita itu bahwa cintanya begitu besar.
"Dengar. Kalau aku sama setannya kayak mereka, setelah tahu kamu hamil anak calon mertuaku sendiri, udah dari dulu aku tinggalin kamu! Cari gadis lain yang masih perawan. Aku setia sama kamu, bantu nyari pengobatan. Sama sekali nggak berniat ninggalin."
Mayang terdiam, ia seperti berpikir sejenak.
"Karena aku cinta."
"Maaas ...."
"Apa? Atau kamu mau aku selingkuh, begitu?" Ancaman Azmir cukup membuat Mayang patuh.
"Jangan pikir nggak ada yang care sama kamu. Tuhan ngirim aku buat kamu, buat jaga kamu." Azmir melonggarkan genggamannya, ia tak tega. Mayang kini menangis. Luapan air mata itu begitu melimpah. Ia takut, ia tak suka diancam seperti itu. Kalau sampai Azmir juga meninggalkannya, maka bunuh diri menjadi akhir dari segalanya.
Azmir mendekat lalu menarik wanita itu dalam dekapan. Tangis Mayang semakin pecah. Sekali-kali memang harus tegas, jika tidak ia akan selalu seperti ini. Memang tidak mudah tapi ... ia tak mudah menyerah.
***
Cup.
"Selamat tidur, Sayang. Jangan mikir berat-berat, ya. Mas pulang dulu, sudah malam," ucap Azmir setelah mengecup kening Mayang.
"Iya, hati-hati, Mas."
Kembali malam, Mayang menatap punggung kekasihnya yang lambat laun hilang dari pandangan. Biarkan ia tertidur sebentar malam ini, biarkan rembulan ikut bernyanyi.
***
Stooop! Authornya panas dingin sendiri, akh!
BERSAMBUNG ..


KISAH SERAM 📛 MELAYU BERSIRI
TAJUK CERITA : LUKA MAYANG
KISAH WANITA YANG DIBUNUH KARENA HAMIL D LUAR NIKAH
HASIL KARYA : ZYLAN AGATHA
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/luka-mayang-kisah-wanita-yang-dibunuh.html

PART 12
Bagaimana rasanya ketika hidup tapi raga terasa mati. Bagai ada jiwa lain yang memaksa masuk; ingin menguasai sepenuhnya. Wanita itu pasrah. Pikirannya buntu, tak tahu harus berbuat apa. Instingnya yang begitu tajam berkata, bahwa ada yang disembunyikan keluarganya. Teka-teki ini begitu rumit, ia tak sanggup lagi menahannya.
"Bu, ke mana Mayang? Daritadi belum keluar makan," ucap Mawar sambil celingukan. Biasanya May sudah bangun pagi-pagi buta untuk menyiapkan sarapan.
"Masih di kamar. Anak itu selama hamil jadi males-malesan," kata Dahlia.
"Bu, apa sebaiknya digugurkan aja kandungan Mayang itu? Sumpah demi Tuhan, aku nggak rela anak itu lahir ke dunia." Mawar menghentikan makannya, ia mendadak serius.
"Kalau udah besar kayak gitu bakalan susah diaborsi. Resikonya nyawa jadi taruhan," kata Dahlia.
"Ya, tapi, Bu ... masa di rumah ini ada anak hasil hubungan sedarah? Aku benar-benar nggak rela, jijik rasanya."
"Mending anak itu dilahirkan aja, nanti setelah itu kita kirim ke panti asuhan," ucap Dahlia memberi saran.
"Nggih, Bu."
Mayang mendengar percakapan itu. Sejujurnya, ia juga tak rela anak ini lahir ke dunia. Namun, bagaimanapun jua, anak ini tidak bersalah. Bapak biadab itulah yang memanfaatkan kesempatan untuk menodai putrinya sendiri. Mayang merasa tak tega jika harus melepas bayinya ke pengurus panti asuhan.
Ia berbalik badan dan berlari menuju kamar. Menumpahkan semua emosinya dalam satu teriakan. Ia sudah muak; sudah bosan. Lelah dengan permainan takdir yang selalu menekan batin. Air mata kepasrahan itu menganaksungai. Mengapa ia dihukum sejahat ini?
Lama ia menangis, emosinya naik turun. Beberapa saat kemudian, Dahlia datang menengok. Takut cucunya sakit jika tak makan dari pagi. Ia datang membawa nampan berisi bubur khusus untuk ibu hamil dan segelas susu. Tak lupa roti kesukaan Mayang.
Tok, tok, tok!
"Buka pintunya, Nak. Makan dulu," ucap Dahlia dari luar. Tatapan Mayang kosong, mengarah ke depan. Bagai tuli tak mendengar, ia mengabaikan suara itu.
"Mayang ...," panggilnya sekali lagi. Di luar sana, Mawar juga menunggu Mayang membukakan pintu.
"Coba dorong aja, Bu. May jarang kunci pintu. Siapa tahu dia tidur," kata Mawar. Dahlia memutar kenop pintu dan benar saja, Mayang tidak menguncinya.
Tidak ada.
Mayang menghilang.
Dahlia menaruh nampan di atas nakas. Lalu, ia mencari di mana wanita itu pergi.
"AAA!" Suara teriakan yang cukup keras membuat Dahlia terkejut. Mawar yang berada di ruang tengah pun langsung berlari menuju kamar putrinya. Dahlia mencari sumber suara. Sepertinya di dalam lemari.
"HAHAHA."
Gubrak!
Pintu lemari terbuka, Dahlia yang berdiri di hadapannya langsung terperanjat. May sedang duduk di dalam sana; meringkuk—entah apa yang dilakukannya. Dahlia bangkit dan mendekati, tatapan May kosong, benar-benar seperti orang tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi, rambutnya basah karena keringat.
"Nak ... ngapain di situ, keluar," ucap Dahlia sambil berusaha meraih tangan cucunya.
"Untuk apa kau kemari," tanya Mayang begitu dingin, suaranya datar. Masih bertahan dengan tatapan kosong dan menakutkan.
"Nak, ayo keluar. Jangan kayak anak kecil main sembunyian," bujuk Dahlia lagi. Lama Mayang terdiam dalam imajinasinya.
Akhirnya ia keluar, tapi masih dalam keadaan yang menakutkan. Tingkahnya aneh, seperti bukan Mayang. Dahlia sudah menduga ini Maria. Iblis itu datang lagi untuk menagih janji.
Dahlia memegang pergelangan tangan Mayang. Dingin, kaku, seperti mayat hidup. Cukup terkejut dan mulai khawatir, Dahlia membacakan do'a-do'a. Entah apa yang terjadi tapi Mayang enggan berbicara lagi. Tangannya bertumpu di depan seperti memberi penghormatan pada seseorang.
"May ...."
"AKH!"
"MAY!"
Wanita itu mendadak berteriak kesakitan seakan-akan sedang dicekik seseorang. Dahlia yang panik berteriak memanggil Mawar. Ia berusaha melepas tangan May yang mencekik dirinya sendiri. Sulit, cekikan itu begitu kuat. Tubuh ringkih Dahlia tidak ada apa-apanya. Ia justru terpental karena kalah tenaga.
"Haaakh!" lenguhnya begitu panjang. Mata Mayang melirik ke atas, seluruh tubuh wanita malang itu menegang. Tak tega melihat cucunya kesakitan, Dahlia segera bangkit. Bersamaan dengan itu, Mawar pun datang.
Tirai kasar tersibak, lampu berkedap-kedip, hawa mendadak berubah menjadi sangat mencekam. Angin yang entah darimana turut membuat suasana semakin mengerikan. Rambut panjang wanita itu ikut melambai diserbu angin malam. Mawar memegangi tangan May, berusaha melepaskan.
"I-ibu ... lepas, sakit! Akh!"
Ia kesulitan bernapas. Sedetik kemudian, tatapan memelas Mayang berubah sinis. Matanya memerah, senyum aneh terlukis di wajahnya. Mawar yang heran melonggarkan sedikit genggamannya.
"Bukankah sudah kubilang, aku kembali untuk menagih janji 18 tahun yang lalu. Biarkan putrimu mati di tanganku!" ucap Maria—sosok yang kini menguasai raga Mayang.
"Janji apa, hah? A-aku merasa nggak punya janji apa-apa sama kamu! Makhluk nggak jelas!" bentak Mawar tak kalah kerasnya. Senyum Maria memudar, tatapannya berubah tajam. Ia menepis tangan Mawar dan mendorongnya hingga terjatuh.
"Awww," rintih Mawar. Dahlia tak bisa berbuat apa-apa kali ini. Ia takut berhadapan dengan iblis itu. Meskipun kasihan dengan cucunya sendiri.
"Mayang! Sadar, Nak, sadar! Ingat Tuhan, ingat!" ucap Mawar dengan sisa tenaganya. Maria bangkit dan tertawa kencang. Ia merasa sudah berhasil merebut janji itu.
"Tua Bangka, bagaimana kabarmu?"
"Keluar kamu dari tubuh cucuku!"
Maria tertawa lagi, lalu ia berjongkok tepat di hadapan Dahlia. "Coba saja kalau bisa! Kau mau membunuhku, bukan? Maka cucumu juga harus mati!" ancamnya. Maria meraih tangan Dahlia dan menggigitnya hingga berdarah. Wanita tua itu meringis kesakitan. Mawar yang melihat itu langsung menepis tangan Maria.
"KELUAR!"
"Apa? Kau mau kusakiti juga? Aku sudah datang dengan baik-baik di sini, tapi kalian pura-pura tidak tahu. Aku, makhluk haus darah. Aku ingin hidup abadi, Sayang."
Ketika Mawar menunduk melihat ibunya terbaring kesakitan, dengan cepat Maria menggigit leher wanita itu hingga mengeluarkan darah dan membekas.
"AKH, SETAN!"
Tangan Mawar bergetar ketika memegang bekas luka itu. Maria mundur perlahan sambil tertawa kencang. Beberapa saat kemudian, Mayang sadar dan ia terjatuh tepat di atas ranjang.
***
Ketika bangun, sakit luar biasa ia rasakan di kedua tangan. Tangisnya pecah ketika menyadari bahwa kedua tangannya diikat dengan tali. May dikurung dalam kamar, ia tak bisa ke mana-mana lagi.
"Ne-nenek! Kenapa ngikat Mayang kayak gini? Sakit," katanya sambil terisak. Dahlia tak menjawab, hanya mengambil nampan berisi makanan tadi dan keluar.
"Ibu! Ibu, lepasin tangan Mayang! Kenapa May disiksa kayak gini ...," ucapnya ketika Mawar masuk untuk menengok. Lagi ... tak ada jawaban. Ibunya memilih menutup mulut, ini demi kebaikan semuanya—termasuk Mayang.
Wanita itu berteriak kencang. Ia memberontak ingin melepaskan diri. Sia-sia, tenaga habis terbuang.
"Aku ingin mati."
***
BERSAMBUNG ..

Comments

Popular posts from this blog

KOLEKSI VIDEO / MOVIE ACTION / CARTOON / SEASON#1

AD COLLECTIONS / THAI MOVIES / SEASON#1

CGCZONE 👁‍🗨 PAID ADVERT / SERVIS IKLAN BEBAYAR / DETAILS