KEHIDUPAN KERAJAAN BUNIAN
KOLEKSI CERITA 📛 SERAM BERSIRI
TAJUK CERITA : KEHIDUPAN KERAJAAN BUNIAN
KARYA : RASYID PUTRI
KOLEKSI CERITA 📛 SERAM BERSIRI
TAJUK CERITA : KEHIDUPAN KERAJAAN BUNIAN
KARYA : RASYID PUTRI
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/kehidupan-kerajaan-bunian.html
PART 1
Aku pulang terlalu lama, pasti Biyung akan marah padaku. Bersembunyi dibalik rumpun bambu, ya itu aku. Meskipun Biyung selalu tau aku bersembunyi di sini, jika takut dimarahi. Dugaanku selalu benar.
"Tolip ... Tolip ... Sini kau!" Suara Biyung menggema.
"Ampun, Biyung, maaf aku pulang lambat."
Keberanikan diri keluar dari rumpun bambu. Biyung dengan mata memerah serta membawa sebilah kayu, siap memukulku.
"Dari mana kau Tolip! Pasti dari mengintip dunia manusia! Sudah Biyung bilang jangan! Masih saja, mau bernasib sama dengan kakakmu yang telah mati dibakar manusia, yang mereka sebut Ustad itu?" Biyung terus saja melontarkan kata-kata kasar, sambil memukul tubuhku.
"Plakkk ... Plakk ..." suara tepisan kayu mengenai kedua betisku. Sungguh sakit, tak terasa air mata keluar.
Aku tau, aku salah. Biyung hanya takut kehilanganku. Kakak lelakiku, bernama Cendrana, telah mati dibakar manusia. Mungkin, itu sebabnya Biyung trauma dan melarang keluarganya bertandang ke alam manusia. Namun, tidak dengan keluarga Bunian yang lain. Mereka dibolehkan mengintip manusia, asal berhati-hati. Lagian, kita bangsa lelembut bisa menghilang. Ah, Biyung.
Setelah puas memaki dan menyiksaku, Biyung pulang duluan. Ia meninggalkanku sendiri. Sepertinya malam ini, aku menginap di rumah Jejey saja.
Dengan langkah gontai, sampailah didepan rumah jejey. Keluarga Jejey tinggal di rumpun bambu sebelah Selatan.
"Jey ... Aku menginap di rumahmu ya! Biasalah, Biyung marah," ujarku.
Jejey yang sedang duduk di daun bambu, segera turun. Sepertinya ia baru selesai memasang bulu di bambu itu.
"Iya, boleh, masuk!"
"Tidur yuk, besok kita main ke Kerajaan saja. Disana ada acara pernikahan Putri Lengsayu, banyak makanan enak pastinya!" Jejey mulai menghayal.
"Ya, baiklah. Asal tidak ke alam manusia, aku ikut."
Jejey tak menyahut, rupanya ia telah tertidur duluan.
"Tunggu Jey, aku nyusul ke dunia mimpimu hahaha," Aku tertawa sendirian. Lalu tertidur disamping sahabatku.
*********
Hari telah pagi, kami bangun. Kebiasaan kami harus mandi pagi, untuk selalu awet muda.
"Lip, ikut aku! Kita mandi jangan di sungai desa, kita ke sungai perbatasan saja," Jejey menawarkan.
"Ah, itukan wilayah manusia Jey! Aku sering lihat manusia mencari ikan disana,"
"Dasar penakut! Ayolah, masa kita takut dengan manusia. Harusnya mereka yang takut dengan kita, kita bangsa Bunian. Asal jangan saling mengganggu."
Jejey memang benar, Biyung saja yang berlebihan. Buktinya, semua orang Bunian boleh keluar, kecuali aku. Kesal rasanya, padahal aku ingin juga berpetualang kesana. Mencari suasana baru dan menjahili manusia.
"Ayolah, Lip! Nanti aku tunjukkan ikan mainanku, ada disimpan disana. Dijaga ayahku, agar tidak diambil manusia," Jejey memecah lamunanku.
"Ayo," sahutku.
Setelah berjalan jauh, kami sampai perbatasan. Jejey mulai memberi aba-aba, kami harus selalu bersembunyi dibalik dedaunan dan batu. Kami tidak boleh terlihat oleh manusia. Pantangan bagi kami, jika terlihat dalam keadaan asli. Namun boleh, jika kami telah menyamar, setidaknya harus mengubah ukuran tubuh sebesar manusia. Ya, karena kami bertubuh kecil dan pendek. Alis kami menyatu, bibir tanpa garis atas, dan telapak kaki kami menghadap ke belakang.
Tak lama kemudian terlihat seorang manusia laki-laki, ia membawa sabit dan keranjang. Sepertinya ia sedang mencari rumput.
Kami bersembunyi dibalik semak, sambil menunggu ia berlalu. Sebenarnya kami bisa tidak terlihat, namun kami masih anak-anak berusia tujuh puluh tahun. Kami di sekolah belum sampai materi cara menghilang.
Setelah manusia pergi, kami segera menuju sungai. Airnya jernih, bersih sekali. Sangat segar, kami mandi dan berenang disana.
"Lip, itu ikan emasku! Sudah bertelur rupanya," Jejey menunjuk ikan emas besar dua ekor.
"Wah, iya besar sekali. Bahagia hatiku bermain disini jey! Ayo, kita loncat dari rumput ilalang itu! Mandi air terjun," ajakku.
Jejey mengangguk, kami mandi dan bermain sepuasnya. Sesekali kami naik ikan emas Jejey dan mengikuti arus sungai.
"Lip ... Tolip!"
"Apa?"
"Lihat itu! Ada sesuatu yang panjang lewat." Jejey mengarahkan kepalaku melihat sesuatu.
"Ayo, kita kejar dan ambil."
Kami berenang berlomba siapa yang cepat mengambil benda itu. Kakiku tersangkut akar yang tumbuh disungai, akhirnya aku kalah. Jejey yang mendapatkannya. Lalu membawa ke permukaan. Jejey meletakkan benda itu diatas batu.
"Wah, besar sekali ya Lip!"
Aku melepaskan jeratan akar pada kaki, menyusul Jejey yang duduk di batu.
"Oh, aku kira tadi ini kayu. Ternyata ini kotoran manusia," Aku duduk menjauh dari kotoran itu.
"Kata Biyung, ini enak, walaupun agak sedikit pahit. Ayo, kita coba makan Lip!
"Makanlah, aku tidak mau. Masih teringat peristiwa kemarin. Aku dimarahi Biyung, pulang kemalaman gara-gara penasaran dan mengintip manusia. Eh, ternyata dia buang kotoran. Akhirnya aku pulang."
Jejey makan, namun hanya sedikit. Katanya dia tak suka rasanya, lebih enak makan kotoran undur-undur. Makanan kesukaan lelembut.
Kami pulang, diperjalanan pulang kami kembali bertemu manusia yang tadi. Ia membawa sekeranjang rumput.
Setelah di rumah Jejey, kami duduk sebentar. Mengganti pakaian.
"Jey, temani aku pulang ya, aku mau minta izin sama Biyung dulu. Baru kita main ke Kerajaan."
"Iya," sahut Jejey.
"Kita lewat pasar ya, aku mau beli undur-undur buat Biyung."
Kami pergi, di perempatan jalan terlihat Pak Rombeng lewat. Ia naik tikus.
"Eh, kalian mau kemana?" Sapa Pak Rombeng.
"Kami mau ke pasar," Jawabku.
"Ayo, naik. Kebetulan Bapak mau ke pasar juga jual jagung."
Kami segera naik, duduk dibelakang Pak Rombeng. Angin terasa sejuk sekali menerpa wajah kami. Dari sini terlihat warga Bunian memulai aktivitasnya. Bertani dan berdagang.
Kami ngobrol dengan Pak Rombeng, beliau sudah berusia tujuh ratus tahun dan telah memiliki delapan puluh anak. Ia dan istrinya adalah petani dan pedagang sayuran.
Tak lama kemudian, kami sampai di pasar Bunian. Kami turun, dan mengucapkan terima kasih pada Pak Rombeng.
Tiba-tiba terjadi kehebohan di pasar, semua orang meninggalkan jual beli dan berkumpul di pusat pasar. Tempat berkumpul ini disebut Alun-alun Rajo Sumai. Kami yang baru datang juga segera berlari untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
BERSAMBUNG.............
KOLEKSI CERITA 📛 SERAM BERSIRI
TAJUK CERITA : KEHIDUPAN KERAJAAN BUNIAN
KARYA : RASYID PUTRI
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/kehidupan-kerajaan-bunian.html
PART 2
Kami telat datang, orang sudah memenuhi Alun-alun. Kami yang kecil tidak terlihat apa yang sedang terjadi.
"Ah ... Tidak terlihat Jey," ujarku.
Jejey diam, celingukan dengan cekatan memperhatikan sekeliling. Matanya membelok, seperti mencari sesuatu.
"Hei! Sini Lip, ikut aku!" kata Jejey.
Aku tidak mendengar, hanya melihat saja gerakan bibir Jejey bergerak. Suasana makin ramai, hiruk pikuk. Tiba-tiba Jejey yang merasa kesal menarik tangan kananku.
"Duh ... Pelan-pelan Jey!"
Jejey masih saja tak menghiraukan. Ia terus saja menarik tanganku. Aku berjalan terseok mengikuti Jejey, tak sempat menghindar saat ada tumpukan kotoran ayam, jualan Wak Keling. Ia melompat, sedangkan aku menginjaknya.
"Jey! Berhenti! Lihat jualan Wak Keling jadi berantakan,"
Jejey tertawa sembari melepaskan tanganku, ia mengisyaratkan dengan jari tangannya agar aku diam.
"Wak Keling sedang tidak jaga kedai, kita pergi cepat sebelum ketahuan!" Jejey kembali menarik tanganku. Melewati kerumunan orang banyak, hingga nafasku sesak.
"Nah, kita sudah sampai. Kau lihat pohon pinang itu kan? Kita naik, agar bisa melihat apa yang terjadi di Alun-alun dengan bebas. Hahaha," suara gelak tawa Jejey menggelegar.
"Apa, aman Jey? Pohon itu terlihat sudah rapuh."
Jejey tidak memperdulikan peringatanku. Ia naik duluan. Cara kami memanjat pohon sama dengan manusia, hanya saja kami naik dengan menghadap belakang. Ya, karena telapak kaki kami memang menghadap belakang. Kami naik pohon, sesampainya di atas sangat terlihat jelas Alun-alun tanpa ada yang menghalangi pandangan kami.
"Oh ... Ada eksekusi hukuman mati Lip, manusia yang tersesat di alam kita menolak untuk menikah dengan Bunian. Itulah hukumannya," Jejey menjelaskan dari atas. Sedangkan aku berada di bawahnya.
"Kasihan, seharusnya lepaskan saja dia. Biarkan ia kembali ke alam manusia, aku sedih melihatnya." sahutku.
"Jangan baik dengan manusia Lip, itu sudah aturan kita. Jika ia menolak dinikahkan ya, harus siap mati."
Kami kembali menyaksikan pemandangan mengerikan. Kejadian seperti ini sudah lumrah dan menjadi tontonan warga Bunian.
Terlihat seorang manusia laki-laki, ia tampan dengan warna kulit cokelatnya. Ia diikat di sebuah tiang eksekusi. Tangan dan kakinya diikat dengan empat ikatan.
Algojo berjumlah lima belas orang, lengkap dengan alat siksaannya. Ada pecut, belati, tombak, panah, bambu runcing dan pedang. Manusia itu terlihat ketakutan melihat orang Bunian. Sedangkan orang Bunian bersorak kegirangan bak sedang berpesta ria.
Algojo siap dengan pedang untuk membelah perutnya terlebih dahulu, manusia terlihat semakin ketakutan dan bibirnya terlihat komat-kamit mengucapkan sesuatu.
Kilauan pedang diterpa sinar matahari, semakin membuat siapapun akan bergidik ngeri. Pedang diangkat tinggi.
"Crasss ... Plakk ... " suara pedang memenggal kepala sang Algojo.
Pedang itu berputar-putar sendiri membunuh semua algojo Kerajaan.
Sontak saja, hal ini membuat gaduh. Semula sangat gembira dengan tontonan eksekusi, berubah menjadi hiruk-pikuk ketakutan. Ada apakah gerangan?
Kami di atas pohon hanya diam, kami tak berani turun. Semua Bunian berlari kocar-kacir, saling tabrakan. Semua pergi untuk menyelamatkan diri. Semua dagangan berantakan, terombang-ambing berceceran.
Kami kembali melihat manusia tadi, tiba-tiba datang seorang manusia lelaki. Ia menggunakan topi dan ada selendang di lehernya. Di tangannya ada benda seperti batu bulat-bulat berjumlah banyak, terangkai jadi satu lingkaran. Ia menggenggamnya sambil bibirnya bergerak komat-kamit. Sepertinya ia sedang membaca mantra.
Ternyata ia yang mengendalikan pedang algojo tadi dan membunuh mereka. Sepertinya, ia datang untuk menyelamatkan manusia yang sedang di eksekusi tadi.
Manusia bertopi itu, terlihat beda dengan manusia lain yang pernah kami temui. Matanya lebih tajam dan bersinar, wajahnya bercahaya sangat teduh. Ia mengibaskan benda yang dibawanya ke arah algojo. Seketika semua algojo terbakar dan jadi abu.
Ia melepaskan ikatan lelaki tadi, dan membawanya pergi menuju sebuah cahaya terang. Mungkin itu pintu yang ia buat untuk pulang ke alamnya.
Alun-alun Rajo Sumai sepi, pasar juga sepi. Tinggal kami berdua di atas pohon pinang ini. Untung saja manusia tadi tidak melihat kami, jika terlihat mungkin kami telah dibunuh juga.
"Bruuut ... Preett ... Pretetetettttt ..."
suara kentut Jejey dari atas. Sungguh sangat bau.
Kupukul keras pantat Jejey dengan tangan.
"Plakkk ... Plakkk ..."
"Rasakan itu! Kentut sembarangan, dasar Bunian tidak sopan!" kembali aku memukul pantat Jejey. Sangat kesal rasanya, lagi fokus melihat sesuatu yang langka, bahkan nyawa hampir melayang. Jejey malah santai dan sempat buang angin di wajahku.
"Aduh ... Ampun, sakit Lip! Tolip, hentikan! Maaf," Jejey memohon.
Sudah terlalu kesal aku dibuatnya, mungkin ia lupa pelajaran di Sekolah. Guru Gandrong pernah mengajarkan jika makan kotoran manusia harus makan daun ketapang, agar kentutnya tidak bau. Karena jika tidak, bau kentutnya berbau bangkai.
"Maaf, Lip. Aku lupa makan daun Ketapang tadi pagi. Kamu tidak mengingatkanku,"
Aku tidak memperdulikan Jejey, aku hampir pingsan karena kentutnya. Semakin keras memukul pantat Jejey, pohon yang kami naiki bergoyang-goyang. Aku lupa pohon ini sudah rapuh.
"Braaakkk ... Brakkk ..." Pohon patah, kami terjatuh ke tanah.
Jejey tertimpa pohon, tepat di perutnya. Sedangkan aku sempat menghindar, kepalaku menabrak batu kecil.
"Aduh, sakit, tolong aku Lip!"
Dengan sigap aku menolong Jejey, kami berjalan ke Timur, disana ada Tabib Bunian. Kami akan minta obat.
"Tabib Enceng ... Tabib Yaksa ..."
Kami memanggilnya dari depan pintu.
Pintu terbuka, terlihat seorang lelaki berjenggot putih keluar. Ia Tabib terbaik di sini.
"Jangan panggil aku Tabib Enceng! Panggil saja Tabib Yaksa! Itu lebih berwibawa. Itu nama saat aku masih jadi penjual bubur cacing, aku malu."
Tabib terlihat marah. Memang benar, dulu sebelum jadi Tabib, ia adalah penjual bubur Cacing. Buburnya enak dan gurih. Tapi ia bosan, lalu ia pergi berguru pada Tabib Kerajaan. Mengabdi selama bertahun-tahun, sehingga ia sekarang jadi Tabib terkenal. Tak ayal, ia sering juga dipanggil mengadap Raja. Sedangkan Kedai bubur cacingnya dijaga dan digantikan oleh adiknya, bernama Nyi wangsih.
"Kok malah melamun? Heh, bocah, kalian terluka ya, pasti gara-gara ke Alun-alun." Tabib memecah lamunan kami.
"Iya, tolong obati kami Tabib," pinta Jejey.
Kami diajak masuk rumahnya. Banyak sekali tulang dan dedaunan, itu adalah bahan dasar Tabib membuat obat.
Tabib memeriksa luka kami secara bergantian, lalu segera ke dapur mengambil obat.
"Ini ramuan tulang Ular Sanca, untuk Tolip. Ini akan segera menutup luka di kepalamu." Tabib memberikan secangkir ramuan. Aku meminumnya.
"Nah, ini ramuan mata Katak hijau dicampur daun Lumajang dan Brotowali, untuk Jejey. Ini akan segera menyembuhkan memar di tubuhmu." Tabib memberikan pada Jejey.
Jejey belum meminumnya, dari baunya saja sudah sangat pahit. Tabib melotot, mengisyaratkan agar segera diminum.
Jejey minum, lalu ia muntah. Sangat pahit katanya.
Dengan sigap Tabib menangkap Jejey. Aku terkejut, apa yang akan dilakukan Tabib tua ini.
"Lip, cepat kau pencet hidungnya. Biar aku yang memasukkan ramuan ini ke mulutnya." Tabib memerintahku.
Langsung bergegas tangan ini, dengan cekatan memencet hidung Jejey. Ia kesulitan bernafas, jadi terpaksalah ia membuka mulut. Tabib menuangkan semua isi ramuan ke dalam mulut Jejey sampai habis.
Kami melepaskan Jejey, ia pingsan.
Jejey dibiarkan tidur, Tabib juga mengisyaratkan agar aku tidur. Lelah juga tubuh ini, akhirnya perlahan tertidur jua.
Tabib membangunkan kami, waktu untuk pemulihan dirasa cukup. Kami bangun dengan bugar kembali, tiada lagi rasa sakit di sekujur tubuh. Luka ditubuh kami sudah menghilang dan sembuh.
"Terima kasih, Tabib. Kami sudah sembuh," ujarku.
Jejey bermuka masam, lidahnya masih terasa pahit. Ia terlihat sedikit marah.
"Terima kasih, Tabib. Tapi mengapa Tabib memaksaku minum ramuan pahit tadi? Sedangkan ibuku tak pernah memaksa begitu, aku akan mengadukan pada ibu." Jejey merasa santai berbicara begitu.
"Hahaha ... Hahaha ... Silakan saja adukan pada ibumu, dia pasti merindukanku. Sampaikan salamku pada ibumu Nyai Kenyan, mantan pacarku dulu sebelum direbut oleh Ayahmu," Tabib tertawa terpingkal-pingkal.
Jejey diam, ia malu. Lalu aku pamit pulang pada Tabib, sedangkan Jejey tidak. Ia berjalan duluan tanpa pamit.
"Jey! Tunggu aku!" Aku mengejar Jejey.
"Seharusnya tadi, kita bertanya pada Tabib tentang kejadian di Alun-alun. Aku penasaran." ujarku.
"Aku juga penasaran! Ayo! Kita cari tau." Jejey kembali berlari meninggalkanku. Aku mengejar Jejey.
BERSAMBUNG.............
KOLEKSI CERITA 📛 SERAM BERSIRI
TAJUK CERITA : KEHIDUPAN KERAJAAN BUNIAN
KARYA : RASYID PUTRI
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/kehidupan-kerajaan-bunian.html
PART 3
Jejey berhenti, di depan Kedai milik Wak Andaru. Wak Andaru, adalah penjual berbagai jenis makanan. Kedainya bersebelahan dengan Kedai Nyai Wangsih, adik Sang Tabib Yaksa. Mereka berdekatan, berjualan makanan yang sama. Masakan andalan mereka adalah bubur Cacing dan jus ulat Kepompong.
Mengapa, Kedai mereka bersebelahan? Karena, Suami mereka adalah saudara kandung. Suami Wak Andaru, bernama Ki Pesek. Sedangkan, Suami Nyai Wangsih bernama Ki Mancung. Sesuai amanat dari orangtua mereka, dilarang tinggal berjauhan.
Usut punya usut, sejarah orangtua mereka mandul. Setelah berobat ke Tabib Kerajaan, akhirnya bisa memiliki keturunan. Dengan syarat batu Kampuas dibelah dua, dan ditanam di tanah yang mereka tinggali sekarang. Jika mereka berdua berpisah, maka orangtua mereka akan mati. Memang berat konsekuensinya.
Semua warga Bunian, tau hal ini. Sudah lumrah terjadi dan merupakan hal yang sangat sakral.
Dua keluarga ini lucu, istri mereka sangat sering bertengkar.
Tolip berada didepan Kedai Nyai Wangsih, sambil memperhatikan Jejey yang mematung didepan Kedai Wak Andaru. Matanya membesar, hidungnya mendengus serta lidahnya keluar. Sungguh, membuat malu Tolip. Sahabat yang satu ini, selalu saja membuat malu dan petaka.
Tolip kesal, lalu mendatangi Jejey.
"Apaan, sih Jey! Bikin malu aja, masang tampang kelaparan! Kayak pengemis,"
"Hehehe ... Maaf, Lip, Aku lapar," ujar Jejey dengan tampang menyebalkannya itu.
"Aku juga lapar, tapi enggak sebodoh kamu! Ya sudah, ikut aku," Tolip mengajak Jejey ke Kedai Nyai Wangsih.
Rupanya, dari tadi Wak Andaru dan Nyai Wangsih, memperhatikan kedua bocah ini. Mereka keluar dari Kedainya, menghampiri dan menangkap Jejey dan Tolip. Sontak saja, kedua bocah ini kaget. Wak Andaru mendapatkan Tolip, dan Nyai Wangsih menangkap Jejey.
"Hei, Wangsih! Serahkan bocah itu padaku!" ujar Wak Andaru, ia tadi buru-buru berebut bocah itu.
"Tidak akan! Kau yang harus menyerahkan bocah yang kau genggam!" sahut Nyai Wangsih.
"Ini adalah pelangganku! Ia harus makan di Kedai kami," Wak Andaru mengacungkan sandalnya ke arah Nyai wangsih.
"Dari dulu, selalu saja kau mengambil pelangganku! Mereka harus makan di Kedai milikku!" Wak Andaru membusungkan dada dan mengacungkan sendok bubur, yang tak sengaja ia bawa tadi karena buru-buru menangkap sang bocah.
Tolip dan Jejey tertarik tangannya oleh kedua wanita ini, terjadilah perebutan pelanggan. Sudah biasa terjadi di depan Kedai mereka, memang tak pernah akur. Selalu saja berebut pelanggan, sampai ada yang kabur dan tidak jadi membeli.
Dari dalam Kedai Wak Andaru, Ki Pesek sedang mencari sesuatu. Ia mencari sandalnya, sudah waktunya ia pergi berkebun. Ki Pesek, dengan teliti mencari setiap sudut Kedainya. Namun, sandal kulit kambingnya tak kunjung ditemukan. Ia menunduk, masuk ke dalam lubang kecil tempat penyimpanan sayur. Kepalanya terjepit kayu yang melingkar di sana. "Sandal tidak ketemu, kepala terjepit." Keluh Ki Pesek.
Ki Pesek menarik paksa kepalanya, akhirnya ia bebas. Hei, tapi ada sayur sawi menempel di kepalanya. Ki Pesek pergi keluar Kedai, ia melihat istrinya.
"Hei, Istriku ... mengapa kalian berebut pelanggan! Hei, itu sandal kesayanganku jangan di lempar!" Ki Pesek dengan sigap melerai mereka. Namun sayang, sandalnya telah terlempar dan masuk sungai.
Tiba-tiba Ki Mancung datang, ia baru pulang dari mencari Cacing. Ia ikut melerai perebutan bocah itu.
Ki Mancung, kena pukulan sendok bubur di keningnya. Nyai Wangsih dan Wak Andaru melepaskan bocah itu. Mereka segera menghampiri suaminya. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Tolip dan Jejey kabur. Mereka berlari sekuat tenaga menjauhi tempat itu.
"Capek, Lip! Istirahat dirumah Nenekku saja, ya!" Jejey menawarkan.
Tolip mengangguk, mereka kerumah Nenek Jejey. Nenek terlihat sedang minum darah Ular Kobra, agar tetap awet muda. Nenek sangat cantik, meskipun usianya sudah seribu dua ratus tahun.
"Nek, kami capek dan lapar. Kami makan ya?" Jejey memecah lamunan Nenek.
"Iya, makan saja." Nenek menyahut singkat.
Jejey dan Tolip makan dengan lahap, mereka memang lapar. Tak lama kemudian, Kakek datang. Kakek adalah seorang Panglima Kerajaan. Ia hanya pulang kerumah sesekali.
"Darimana kalian?" Tanya Kakek.
"Tadi kami dari Alun-alun Kek," Jawab Jejey.
"Pasti kalian belum tahu ceritanya kan? Kebetulan Kakek pulang, bisa bercerita dengan kalian." Kakek berkata sembari makan kerupuk sirih, itu makanan khusus Panglima Kerajaan.
"Iya, Kek. Kami sangat penasaran dan ingin tahu. Tolong, ceritakan selengkapnya ya kek!" Pinta Tolip.
"Ayo, Kek, ceritalah." Jejey menambahkan.
"Kerajaan sedang digemparkan oleh kejadian langka, manusia yang akan dinikahkan dengan anak Penasehat Kerajaan menolak. Akhirnya, dilakukan eksekusi hukuman mati. Namun tiba-tiba, datang seseorang gagah perkasa menyelamatkannya. Semua Algojo Alun-alun mati, hebat sekali dia bisa membuat Algojo jadi debu." Kakek menghela nafas panjang.
"Iya, Kek. Kami melihatnya dengan sangat jelas. Ia sangat gagah perkasa dan tampan." Tolip berbicara dengan wajah serius.
"Raja Prabu Mayendra, marah dan murka. Ia merasa dilecehkan kekuatannya. Tadi seluruh anggota Kerajaan Rapat Besar, membahas peristiwa ini," Kakek meneguk minumannya. Lalu melanjutkan,
"Dari Hasil terawangan Nyai Rondo, yang ia lihat di cermin Nagapuspa, Manusia satu itu sangat kuat. Ia dijaga beberapa Jin islam penunggu Gunung Bungkuk Selatan. Juga Jin yang ada di dalam Laut Pantai Panjang, setelah itu Nyai Rondo tak bisa melihat lagi, ada asap putih yang menghalangi. Penelusuran kembali dilakukan Ki Ageng Pendoposuro, ia adalah petenung hebat Kerajaan."
"Apa kelanjutannya?" Tanya Jejey, dengan mulut penuh berisi makanan.
"Ki Ageng Pendoposuro, pergi ke alam manusia. Ia hanya dapat informasi nama manusia itu saja, selebihnya tidak ada. Ia melewati rintangan yang amat dahsyat, kami memantaunya di Air Terjun Nerakageni (air ajaib yang bisa memantulkan kejadian dari alam lain). Ia melewati pagar api yang sangat panas, sekujur tubuhnya mengalami luka bakar. Ia pulang dengan keadaan sekarat, ia kini dirawat di rumah Tabib Utama Kerajaan dan dijaga seluruh Tabib terkenal." Kakek menjelaskan dengan seksama, ia terlihat bimbang.
"Kerajaan dalam waktu dekat akan menyerang sukma manusia itu, sekarang seluruh Prajurit dan Ksatria dalam pelatihan. Atas perintah Raja, semua akan ikut membantu. Hal yang membuat kakek sangat bingung, adalah kakek ditugaskan hal yang sangat berat. Yaitu memgatur strategi penyerangan." Kakek mengepalkan tinjunya.
Tolip dan Jejey, mulai memahami peliknya situasi Kerajaan. Mereka jadi heran dan kagum, pada sosok manusia perkasa itu.
"Kakek, jika boleh kami tahu, siapa nama manusia itu?" Tanya Jejey.
"Ia bernama, Ustadz Arif."
Kemudian hening, semua berada pada lamunan masing-masing. Akhirnya setelah berbincang, Tolip dan Jejey ingin pulang. Takut biyung Tolip khawatir.
Mereka menuju rumah Tolip, di tengah perjalanan. Mereka kembali bertemu dengan Pak Rombeng dan tikusnya.
"Mau pulang, ya?" Sapa Pak Rombeng.
"Iya, Pak." Jejey Menyahut.
"Ayo, naik! Akan aku antar sampai perumahan bambu," Pak Rombeng tersenyum ramah.
Setelah sampai, mereka menuju rumah Tolip. Biyung sudah menunggu.
"Darimana, kalian?" tanya Biyung.
"Dari main kerumah Nenek Jejey, Biyung."
"Masuk, dan tidurlah!" kata Biyung.
Malam ini Jejey tidur dirumahku, Jejey bebas kemana saja sesukanya.
"Jey, kata Guru Gandrong, alam kita itu beda dengan manusia. Kita malam, mereka siang dan sebaliknya. Berarti sekarang alam manusia sedang beraktivitas, kita tidur hehehe." Tolip bergumam sambil mengingat-ingat.
Yang diajak berbicara ternyata sudah tidur. Ah, dasar tukang tidur, Tolip menggelengkan kepala.
Tolip belum bisa tidur, ia masih memikirkan perkataan Kakek tadi. Sebenarnya siapa Ustadz Arif? Mengapa dia sangat sakti? Dia bisa membakar lelembut hanya dengan kibasan benda yang dibawanya.
Banyak sekali pertanyaan dibenak Tolip.
"Besok, aku akan mengajak Jejey pergi kerumah Ahli Sejarah Bunian. Ia bernama Prabu Buykun, ia tau semua kisah Negeri ini. Aku akan menanyakan cerita kematian Kakakku Cendrana. Apakah ini ada hubungannya dengan Ustadz Arif?"
BERSAMBUNG.............
KOLEKSI CERITA 📛 SERAM BERSIRI
TAJUK CERITA : KEHIDUPAN KERAJAAN BUNIAN
KARYA : RASYID PUTRI
CP BY ADMIN A.D
CGCZONE BRUNEI
theHORRORZONE BRUNEI
http://thehorrorzon.blogspot.com/2020/04/kehidupan-kerajaan-bunian.html
PART 4
BERSAMBUNG.............
Comments
Post a Comment